Dalam harian KOMPAS (30/12), ada berita berjudul “Saat Cinta Tertutup Dendam”. Diceritakan seorang waita (A, 31 tahun) dibunuh oleh seorang pria (B, 20tahun) yang merupakn kekasihnya sendiri. Dituliskan “semula hubungan A dan B mesra tanpa pertengkaran. Akan tetapi sikap A berubah beberapa bulan erakhir. Bukan kasih sayang lagi  yang diberikan, A mulai semena-mena memerintahnya, mulai dari mencuci baju, mengepel lantai kost, hingga memijat. A meminta dengan nada kasar. Cinta dengan cepat berubah menjadi benci.” Nah.. Sahabat BEST, apa pendapat kalian? Kalau saya berpikir, “Kok mau ya si B dengan si A? Memangnya sejak bereman enggak keliatan kalau si A itu orangnya semena-mena? Apa sih yang si B pertimbangkan saat mau ‘nembak’ A?”

     Sahabat BEST! Sebagian dari kita mungkin juga pernah merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta, Kita mungkin juga pernah merasakan indahnya mencintai dan dicintai oleh pacar atau ‘TTM’-an kita. Namun hati-hati! Kita bisa ‘DIBUTAKAN’ oleh cinta. Artinya, kita begitu terpesona dengan ‘kebaikan’, ‘kasih sayang’, dan ‘perhatian’ yang diberikan pacar kita sehingga tidak mampu melihat (seakan-akan ‘buta’) siapa dia sebenarnya. Kita tidak dapat menilai kepribadian pacar ita dengan objektif alias apa adanya. Nasihat dari orangtua dan sahabat pun kita bantah atas nama cinta. Menurut saya, inilah yang dialami oleh B saat dia memutuskan untuk pacaran dengan A. B terpesona dengan A yang lebih tua dan penyayang, sehingga B gagal menilai calon pacarnya dengan lebih teliti, lebih logis, dan lebih bijaksana. Apa mungkin sebelum pacaran, A tidak sekalipun menampakkan perilaku ‘bossy’-nya kepada B yang jauh lebih muda? Saya yakin pernah, hanya saja, B tidak bisa menilai perilaku A itu dengan ‘melek’.

     Sebenarnya, apa sih penyebab cinta yang buta? Gary Thomas menuliskan “Saat seseorang mencintai, perasaan ini akan memengaruhi wilayah otak yang sama dengan yang dipengaruhi oleh kecanduan kokain. Seseorang jadi ingin terus-terusan menikmati kebersamaan dengan pasangannya, maka sekali Anda jatuh cinta, sukarlah untuk bangkit dari cinta sampai reaksi neurokimiawi itu menghilang. Otak Anda berfokus pada 2 tugas selama masa tergila-gila, yaiu mendapatkan orang itu dan mempertahankannya.” Jadi sebenarnya, ‘kebutaan cinta’ itu wajar. Hanya saja, perasaan ini hanya akan berlangsung sekirat 12-18bulan. Oleh karena itu, kita tidak bisa HANYA mengandalkan perasaan ini dalam mengambil keputusan. Sebab jika tiba saatnya perasaan ini ‘habis’, maka cinta kita akan kembali ‘melek’. Apabila kita tidak bisa menerima pasangan kita yang ‘sebenarnya’, kita bisa sangat kecewa, atau paling parah ya seperti A dan B.

     Nah.. Agar kita tidak ‘buta’ dalam mencintai, kita tidak boleh terburu-buru dalam mengambil keputusan dan memperbanyak diskusi sebelum mengambil keputusan. Simple kan? Yup! Simple untuk dikatakan, sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, selamat bersabar, selamat menunggu, selamat berdiskusi, selamat mencintai, selamat MELEK! God Bless Us!

 

2014-19-SERU-1-FRANKIE

Oleh : Frankie Kusumawardan – Guru BK SMPK 7

 

Sumber : Best Teens|No. 19 Th. IV Edisi Februari – Maret 2014