Ada orang tua yang berkata, “Bu, anak saya BBM-an terus, bukannya belajar, bahkan saya dengar lagi dia itu sekarang ini sudah mulai suka-sukaan sama cowok lagi. Saya sih tidak suka lah kalau dia sudah mulai suka-sukaan dengan cowok, pokoknya tidak deh bu…

Atau ada juga yang berkata, “Selama itu tidak mengganggu belajarnya, saya mah tidak keberatan bu, dia pacaran dengan si Tony.Tapi nyatanya sekarang ini nilainya jelek, dan kalau dikasih tahu marah. Apalagi kalau saya larang dia pergi dengan pacarnya, wah…..bisa dibayangkan khan, seperti itulah keadaan Siska saat ini, kesel saya….”

Apa pendapat Anda bila anak Anda yang saat ini duduk di bangku sekolah jenjang SMP atau SMA, ternyata sedang menjalin hubungan istimewa dengan lawan jenisnya?Atau Anda mendengar gosip dan bahkan melihat sendiri ternyata anak Anda tengah berpacaran dengan teman sekolahnya atau teman disekitar lingkungan anak kita? Saya yakin jawabannya beragam, ada yang pro dan pasti ada juga yang kontra terhadap hubungan tersebut.

Dalam buku “Pernak-Pernik Perjodohan” karangan Paul Gunadi dan Lortha GB Mahanani, dikatakan bahwa masa berpacaran adalah masa persiapan menuju jenjang pernikahan, meskipun terbuka kemungkinan terjadinya perpisahan.  Masa berpacaran adalah masa dimana seharusnya kita membuka mata dan telinga kita lebarlebar untuk melihat apakah memang terdapat kecocokan,apakah kita saling menerima dan memberi, bukan hanya memberi saja atau sebaliknya hanya menerima saja. Masa berpacaran sebenarnya merupakan kesempatan emas untuk membicarakan serta mencari jalan keluar atas penemuan-penemuan serta tentang banyak hal yang berkaitan dengan kepribadian masing-masing atau hubungan itu sendiri.

Pada usia remaja kita didesain untuk bertumbuh dalam pergaulan yang lebih umum,bukan untuk terlibat dalam hubungan yang eksklusif.  Pada masa remaja, kita berkesempatan untuk bergaul dan mengenal dengan baik berbagai kepribadian orang-orang di sekitar kita, baik laki-laki maupun perempuan.  Pergaulan yang luas akan memperkaya jiwa, berpacaran pada usia dini akan menghambat pertumbuhan pribadi,karena berpacaran tidak bisa tidak akan mempersempit lingkup pergaulan, membuat remaja terikat dan membatasi ruang pertumbuhan.

Persoalan akan timbul bila mereka putus cinta, bagaimana dengan konsentrasi belajarnya, serta memulai perteman kembali,masuk kelompok yang mana, akan diterimakah dikelompok yang baru itu, karena SMP dan SMA kelompok pertemanan mereka sangatlah erat.Beragam masalah-masalah akan timbul dalam diri remaja, sanggupkah mereka menghadapinya?

Jadi kapan donk waktu yang tepat?

Waktu yang tepat menurut Paul Gunadi dalam bukunya, adalah ketika sudah lebih dewasa, setidaknya setelah lulus SMA, dimana kebutuhan untuk memiliki  teman khusus mulai timbul dalam diri remaja.

Bagaimana bila saat ini ternyata anak Anda sudah berpacaran atau sedang berpacaran?

Memarahinya atau melarangnya untuk keluar berdua, bahkan sampai memutuskan hubungan mereka bukanlah tindakan yang bijaksana.Bahkan diharapkan pada masa itu lah hubungan orangtua dengan anak harusnya lebih dekat dan harmonis, karena anak kita dapat berbicara dengan bebas tanpa rasa takut kepada kita sebagai orang tua,sekaligus sebagai sahabat anak. Bila anak kita menghadapi masalah dalam hubungannya,orang tua dapat segera membantu dan menguatkan serta menghibur mereka.Membuka lembaran lama kita saat berpacaran dulu dan menceritakannya kepada anak juga dapat menjadi acuan mereka dalam menjalin relasi dengan lawan jenis mereka.

Selamat mendampingi remaja kita dan menjadi sahabat bagi anak kita.

2014-19-infobest-2-PATRICIA

Oleh: Patricia Tumilisar
Guru BK SMPK 2 PENABUR Jakarta

Sumber : Best Teens| No. 19 Th. IV Edisi Februari – Maret 2014