Cinta pada masa remaja sering kita lihat, dengar, bahkan rasakan. Itu adalah hal alamiah dan indah bagi yang sedang merasakannya.

Perasaan cinta dapat remaja alami kapan saja. Ya! Saat pubertas, kita akan mengalami yang namanya tertarik pada lawan jenis, atau biasa disebut jatuh cinta (hayo, ngaku aja). Hal tersebut adalah pengaruh dari hormon testosterone (pada laki-laki) dan hormon estrogen (pada wanita). Dengan kata lain pubertas ditandai dengan timbulnya rasa ingin dicintai atau disayang oleh lawan jenis yang bukan anggota keluarga.

Faktor pemicu lain yang mendorong remaja saling menyukai adalah berbagai persaman yang dimiliki, misalnya: sikap dan tingkah laku, kesukaan tipe pakaian, kecerdasan intelektual, kepribadian, latar belakang etnis/suku, nilai-nilai, sikap religius/keagamaan, gaya hidup, daya tarik fisik, dan lain sebagainya.

Hubungan pertemanan dan keakraban, juga dapat menciptakan keadaan saling melengkapi seperti memberi dan menerima, menyukai dan disukai. Bak gayung bersambut, kondisi ini menjadi salah satu faktor yang bila tidak diimbangi dengan berPikir panjang dan matang akan melahirkan falling in love alias jatuh cinta ^_^.

Nih, beberapa ciri orang yang sedang jatuh cinta:

Mulai memiliki seseorang yang spesial (lawan jenis, tentunya). Seseorang yang secara khusus kita perhatikan dan kagumi. Kita merasa nyaman bila berbicara dengan dia, kesepian jika dia tidak ada saat sedang kumpul-kumpul, sangat mengharapkan balasan bbm/sms dari dia.

Perasaan berdebar saat bertemu atau dekat dengan orang yang spesial tersebut. Pengaruh zat adrenalin yang terkandung dalam tubuh menaikkan tekanan darah dan bikin jantung berdetak lebih kencang. Saat bertemu sama gebetan, zat inilah yang bikin kita jadi berkeringat karena deg-degan dan mulut menjadi kering.

Mulai memperhatikan penampilan. Kita ingin selalu sempurna bila bertemu dengan ‘dia yang spesial’. Kita akan memperhatikan kerapihan rambut, kebersihan wajah, aroma tubuh, pakaian yang kita gunakan, dan segala sesuatunya supaya kita dapat menarik perhatian doi.

 

Terus, gimana dong kalau ternyata sekarang saya sedang jatuh cinta? Padahal masih SMP/ SMA, dan belum diizinin sama papa mama?

Jatuh cinta itu nggak bisa kita tolak. Namun, tidak selamanya jatuh cinta harus berakhir pada yang namanya berpacaran. Sah aja kok kita jatuh cinta. Itu anugerah. Tapi, untuk remaja seusia kita, yang masih sekolah, belum mandiri secara finansial, dan masih labil dalam emosi juga nafsu, lebih baik kita jangan berpacaran dulu, ya.

Bila menyukai seseorang, jalinlah hubungan persahabatan dengannya, saling mendukung prestasi satu sama lain. Namun, tetaplah berteman dengan sahabat-sahabat yang lain. So, kita nggak jadi seperti katak dalam tempurung saat kita jatuh cinta.

Cinta masa remaja itu indah, tapi jangan sampai dibuat “buta” olehnya. Banyak yang harus diraih dan dicapai saat remaja, tapi nggak akan maksimal kalau kita sedang “buta”,kan? Salam penuh cinta.

 

2014-19-seru-2-windry

Oleh: Windry Aurora
Guru BK SMPK 7 PENABUR Jakarta

 

Sumber : Best Teens|No. 19 Th. IV Edisi Februari – Maret 2014Cinta pada masa remaja sering kita lihat, dengar, bahkan rasakan. Itu adalah hal alamiah dan indah bagi yang sedang merasakannya.

Perasaan cinta dapat remaja alami kapan saja. Ya! Saat pubertas, kita akan mengalami yang namanya tertarik pada lawan jenis, atau biasa disebut jatuh cinta (hayo, ngaku aja). Hal tersebut adalah pengaruh dari hormon testosterone (pada laki-laki) dan hormon estrogen (pada wanita). Dengan kata lain pubertas ditandai dengan timbulnya rasa ingin dicintai atau disayang oleh lawan jenis yang bukan anggota keluarga.

Faktor pemicu lain yang mendorong remaja saling menyukai adalah berbagai persaman yang dimiliki, misalnya: sikap dan tingkah laku, kesukaan tipe pakaian, kecerdasan intelektual, kepribadian, latar belakang etnis/suku, nilai-nilai, sikap religius/keagamaan, gaya hidup, daya tarik fisik, dan lain sebagainya.

Hubungan pertemanan dan keakraban, juga dapat menciptakan keadaan saling melengkapi seperti memberi dan menerima, menyukai dan disukai. Bak gayung bersambut, kondisi ini menjadi salah satu faktor yang bila tidak diimbangi dengan berPikir panjang dan matang akan melahirkan falling in love alias jatuh cinta ^_^.

Nih, beberapa ciri orang yang sedang jatuh cinta:

Mulai memiliki seseorang yang spesial (lawan jenis, tentunya). Seseorang yang secara khusus kita perhatikan dan kagumi. Kita merasa nyaman bila berbicara dengan dia, kesepian jika dia tidak ada saat sedang kumpul-kumpul, sangat mengharapkan balasan bbm/sms dari dia.

Perasaan berdebar saat bertemu atau dekat dengan orang yang spesial tersebut. Pengaruh zat adrenalin yang terkandung dalam tubuh menaikkan tekanan darah dan bikin jantung berdetak lebih kencang. Saat bertemu sama gebetan, zat inilah yang bikin kita jadi berkeringat karena deg-degan dan mulut menjadi kering.

Mulai memperhatikan penampilan. Kita ingin selalu sempurna bila bertemu dengan ‘dia yang spesial’. Kita akan memperhatikan kerapihan rambut, kebersihan wajah, aroma tubuh, pakaian yang kita gunakan, dan segala sesuatunya supaya kita dapat menarik perhatian doi.

 

Terus, gimana dong kalau ternyata sekarang saya sedang jatuh cinta? Padahal masih SMP/ SMA, dan belum diizinin sama papa mama?

Jatuh cinta itu nggak bisa kita tolak. Namun, tidak selamanya jatuh cinta harus berakhir pada yang namanya berpacaran. Sah aja kok kita jatuh cinta. Itu anugerah. Tapi, untuk remaja seusia kita, yang masih sekolah, belum mandiri secara finansial, dan masih labil dalam emosi juga nafsu, lebih baik kita jangan berpacaran dulu, ya.

Bila menyukai seseorang, jalinlah hubungan persahabatan dengannya, saling mendukung prestasi satu sama lain. Namun, tetaplah berteman dengan sahabat-sahabat yang lain. So, kita nggak jadi seperti katak dalam tempurung saat kita jatuh cinta.

Cinta masa remaja itu indah, tapi jangan sampai dibuat “buta” olehnya. Banyak yang harus diraih dan dicapai saat remaja, tapi nggak akan maksimal kalau kita sedang “buta”,kan? Salam penuh cinta.

 

2014-19-seru-2-windry

Oleh: Windry Aurora
Guru BK SMPK 7 PENABUR Jakarta

 

Sumber : Best Teens|No. 19 Th. IV Edisi Februari – Maret 2014