[:en]

Menyikapi kesepian anak membutuhkan pembinaan yang baik dari orang tua.

sumber: zeenews

Dengan telah berlangsungnya semester baru, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri sebagai orang tua apakah kita harus khawatir dengan jumlah teman yang dimiliki anak kita. Orang tua seringkali mengeluh bahwa anak mereka tampak terisolasi, atau tidak memiliki teman “nyata” yang menghabiskan banyak waktu bersama mereka. Laporan Childtrends menemukan bahwa sampai 30% remaja mengatakan bahwa mereka merasa tertekan, kesepian atau tidak bahagia sepanjang waktu. Sayangnya, angka itu mungkin tidak berubah meskipun anak-anak remaja perlahan tumbuh menjadi orag dewasa. Lebih mengkhawatirkan lagi bahwa saat ini, terdapat persentase orang dewasa yang hidup dalam kehidupan yang tidak terhubung secara sosial, dengan lebih dari seperempatnya tinggal sendirian. Di kota-kota besar seperti New York jumlahnya bisa naik menjadi satu setengah dari semua rumah tangga yang terdiri dari satu orang saja. Meskipun kita dapat memperdebatkan manfaat dan kerugian hidup yang dialami orang dewasa yang tinggal sendiri (memang beberapa orang lebih menyukai ketenangan dan otonomi di tempat mereka sendiri), anak-anak memerlukan interaksi sosial untuk perkembangan psikologis, sosial, dan fisik mereka.

Dapatkah seorang pengasuh memberikan dukungan sosial dan emosional untuk anak yang kesepian? Jawabannya adalah “tergantung.” Jika Anda tumbuh di daerah pertanian yang berjarak jauh atau harus naik perahu layar untuk mencapainya, satu atau dua hubungan sosial mungkin cukup. Dalam keadaan yang yang sangat jarang terjadi, tersedianya teman hanyalah  pilihan tetapi anak tetap masih bisa berkembang. Hal tersebut terjadi sebagian besar disebabkan oleh intensitas pengalaman sehari-hari mereka dan tanggung jawab yang mereka miliki untuk kelangsungan hidup mereka sendiri dan kehidupan yang mereka jalani. Dengan kata lain, pengalaman hidup mereka memberi anak-anak batu fondasi untuk mengembangkan ketahanannya: identitas positif, rasa kontrol, perasaan bahwa mereka penting dan dimiliki. Dan tentu saja mereka memiliki aktivitas yang cukup membuat mereka jauh dari merasa kesepian.

Biasanya anak-anak  yang tinggal di rumah yang sepi (sedikit orang) dengan orang tua yang  yang mengabaikan mereka, dan merena yang menghabiskan waktu untuk mengikuti tren terbaru di Facebook, tidak akan menemukan sesuatu yang positif dengan menjadi sendirian atau isolasi. Isolasi semacam itu dapat berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan mental seperti meningkatnya penggunaan obat terlarang, depresi, nilai kegagalan dan bahkan bunuh diri.

Sebelum orang tua bersikeras mendorong anak-anak untuk berteman, penting untuk pertama-tama bertanya kepada diri kita sendiri apakah anak kita adalah orang yang introvert atau ekstrovert. Apakah anak kita menginginkan atau membutuhkan lebih banyak interaksi dengan teman sebaya? Dapat ditemukan orang tua yang sangat ramah yang ingin mendorong  anak mereka berteman karena kurangnya hubungan teman sebaya saat anak tersebut sebenarnya cukup senang dengan satu atau dua teman dekat dan menghabiskan banyak waktu untuk membaca dan melamun. Kita harus dapat membedakan antara  pemalu dan sendirian dengan kesepian (perasaan bahwa sebenarnya seseorang menginginkan lebih banyak hubungan sosial dan tetapi tidak bisa mendapatkannya).

Jika anak saya kesepian, apa yang bisa saya lakukan?

Jika anak Anda kesepian, itu adalah masalah. Ada dua cara untuk mengatasinya (sementara mengabaikan dulu  kasus bullying atau intimidasi yang menyebabkan kesepian). Tidak baik bahwa orang tua harus mendorong  anaknya berteman dengan membuat pesta atau pertemuan yang sangat canggung untuk memaksa anak-anak memiliki teman. Orang tua boleh saja membuatkan kesempatan  untuk membantu, tetapi  mereka tetap harus  berteman dengan cara mereka sendiri. Olahraga, music,  kesempatan menjadi relawan, berkunjung ke rumah sepupu dan melibatkan anak-anak ke acara-acara yang ikuti orang tua seperti BBQ di lingkungan adalah semua strategi hebat untuk membuat anak pemalu lebih dekat dengan rekan-rekan baru. Tapi sementara kita bisa memaksa anak kita untuk berpartisipasi, kita seharusnya tidak memaksa mereka untuk segera membuat persahabatan baru. Lebih baik membiarkan kedekatan dan kontinuitas seiring berjalannya waktu kerja sihir mereka sendiri. Akhirnya, jika ada kecocokan yang baik, seorang anak akan memulai hubungan dengan anak-anak lain yang sesuai dengan minat dan tingkat aktivitasnya.

Cara pertama diatas tentu mengasumsikan bahwa anak-anak memiliki keterampilan yang mereka butuhkan untuk berteman. Pada saat para orang tua terisolasi secara sosial seperti anak-anak yang ingin mereka bantu, maka dia tidak akan menjadi model peran atau contoh yang baik. Orang tua yang demikian mungkin harus menawarkan sedikit pelatihan tentang cara berteman kepada anak-anak. Terdapat sebuah buku yang cukup dapat membantu: “Growing Friendships: Panduan untuk membuat dan memelihara teman” oleh Eileen Kennedy-Moor dan Christine McLaughline. Buku ini mudah  untuk dibaca remaja atau bisa digunakan oleh orang tua sebagai alat pembinaan. Beberapa perilaku yang dimiliki anak memang merupakan penghalang untuk berteman (termasuk pelaku atau korban bullying) orang tua tetap mungkin menemukan beberapa strategi bagus dalam buku tersebut yang akan membantunya mengatasi situasi dengan lebih baik.

Jika Anda pikir anak anda kesepian, pertimbangkan sedikit pembinaan. Kesepian bukanlah sesuatu yang harus diabaikan oleh orang tua. Jika anak-anak tidak mengembangkan keterampilan yang mereka butuhkan untuk mengembangkan persahabatan lebih awal, mereka  mungkin akan menjadi orang dewasa yang tidak memiliki kemampuan untuk membentuk hubungan positif yang mereka butuhkan di kemudian hari.

Sumber: www.psycoholytoday.com (dengan penyesuaian)

[:id]

Menyikapi kesepian anak membutuhkan pembinaan yang baik dari orang tua.

sumber: zeenews

Dengan telah berlangsungnya semester baru, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri sebagai orang tua apakah kita harus khawatir dengan jumlah teman yang dimiliki anak kita. Orang tua seringkali mengeluh bahwa anak mereka tampak terisolasi, atau tidak memiliki teman “nyata” yang menghabiskan banyak waktu bersama mereka. Laporan Childtrends menemukan bahwa sampai 30% remaja mengatakan bahwa mereka merasa tertekan, kesepian atau tidak bahagia sepanjang waktu. Sayangnya, angka itu mungkin tidak berubah meskipun anak-anak remaja perlahan tumbuh menjadi orag dewasa. Lebih mengkhawatirkan lagi bahwa saat ini, terdapat persentase orang dewasa yang hidup dalam kehidupan yang tidak terhubung secara sosial, dengan lebih dari seperempatnya tinggal sendirian. Di kota-kota besar seperti New York jumlahnya bisa naik menjadi satu setengah dari semua rumah tangga yang terdiri dari satu orang saja. Meskipun kita dapat memperdebatkan manfaat dan kerugian hidup yang dialami orang dewasa yang tinggal sendiri (memang beberapa orang lebih menyukai ketenangan dan otonomi di tempat mereka sendiri), anak-anak memerlukan interaksi sosial untuk perkembangan psikologis, sosial, dan fisik mereka.

Dapatkah seorang pengasuh memberikan dukungan sosial dan emosional untuk anak yang kesepian? Jawabannya adalah “tergantung.” Jika Anda tumbuh di daerah pertanian yang berjarak jauh atau harus naik perahu layar untuk mencapainya, satu atau dua hubungan sosial mungkin cukup. Dalam keadaan yang yang sangat jarang terjadi, tersedianya teman hanyalah  pilihan tetapi anak tetap masih bisa berkembang. Hal tersebut terjadi sebagian besar disebabkan oleh intensitas pengalaman sehari-hari mereka dan tanggung jawab yang mereka miliki untuk kelangsungan hidup mereka sendiri dan kehidupan yang mereka jalani. Dengan kata lain, pengalaman hidup mereka memberi anak-anak batu fondasi untuk mengembangkan ketahanannya: identitas positif, rasa kontrol, perasaan bahwa mereka penting dan dimiliki. Dan tentu saja mereka memiliki aktivitas yang cukup membuat mereka jauh dari merasa kesepian.

Biasanya anak-anak  yang tinggal di rumah yang sepi (sedikit orang) dengan orang tua yang  yang mengabaikan mereka, dan merena yang menghabiskan waktu untuk mengikuti tren terbaru di Facebook, tidak akan menemukan sesuatu yang positif dengan menjadi sendirian atau isolasi. Isolasi semacam itu dapat berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan mental seperti meningkatnya penggunaan obat terlarang, depresi, nilai kegagalan dan bahkan bunuh diri.

Sebelum orang tua bersikeras mendorong anak-anak untuk berteman, penting untuk pertama-tama bertanya kepada diri kita sendiri apakah anak kita adalah orang yang introvert atau ekstrovert. Apakah anak kita menginginkan atau membutuhkan lebih banyak interaksi dengan teman sebaya? Dapat ditemukan orang tua yang sangat ramah yang ingin mendorong  anak mereka berteman karena kurangnya hubungan teman sebaya saat anak tersebut sebenarnya cukup senang dengan satu atau dua teman dekat dan menghabiskan banyak waktu untuk membaca dan melamun. Kita harus dapat membedakan antara  pemalu dan sendirian dengan kesepian (perasaan bahwa sebenarnya seseorang menginginkan lebih banyak hubungan sosial dan tetapi tidak bisa mendapatkannya).

Jika anak saya kesepian, apa yang bisa saya lakukan?

Jika anak Anda kesepian, itu adalah masalah. Ada dua cara untuk mengatasinya (sementara mengabaikan dulu  kasus bullying atau intimidasi yang menyebabkan kesepian). Tidak baik bahwa orang tua harus mendorong  anaknya berteman dengan membuat pesta atau pertemuan yang sangat canggung untuk memaksa anak-anak memiliki teman. Orang tua boleh saja membuatkan kesempatan  untuk membantu, tetapi  mereka tetap harus  berteman dengan cara mereka sendiri. Olahraga, music,  kesempatan menjadi relawan, berkunjung ke rumah sepupu dan melibatkan anak-anak ke acara-acara yang ikuti orang tua seperti BBQ di lingkungan adalah semua strategi hebat untuk membuat anak pemalu lebih dekat dengan rekan-rekan baru. Tapi sementara kita bisa memaksa anak kita untuk berpartisipasi, kita seharusnya tidak memaksa mereka untuk segera membuat persahabatan baru. Lebih baik membiarkan kedekatan dan kontinuitas seiring berjalannya waktu kerja sihir mereka sendiri. Akhirnya, jika ada kecocokan yang baik, seorang anak akan memulai hubungan dengan anak-anak lain yang sesuai dengan minat dan tingkat aktivitasnya.

 

Cara pertama diatas tentu mengasumsikan bahwa anak-anak memiliki keterampilan yang mereka butuhkan untuk berteman. Pada saat para orang tua terisolasi secara sosial seperti anak-anak yang ingin mereka bantu, maka dia tidak akan menjadi model peran atau contoh yang baik. Orang tua yang demikian mungkin harus menawarkan sedikit pelatihan tentang cara berteman kepada anak-anak. Terdapat sebuah buku yang cukup dapat membantu: “Growing Friendships: Panduan untuk membuat dan memelihara teman” oleh Eileen Kennedy-Moor dan Christine McLaughline. Buku ini mudah  untuk dibaca remaja atau bisa digunakan oleh orang tua sebagai alat pembinaan. Beberapa perilaku yang dimiliki anak memang merupakan penghalang untuk berteman (termasuk pelaku atau korban bullying) orang tua tetap mungkin menemukan beberapa strategi bagus dalam buku tersebut yang akan membantunya mengatasi situasi dengan lebih baik.

Jika Anda pikir anak anda kesepian, pertimbangkan sedikit pembinaan. Kesepian bukanlah sesuatu yang harus diabaikan oleh orang tua. Jika anak-anak tidak mengembangkan keterampilan yang mereka butuhkan untuk mengembangkan persahabatan lebih awal, mereka  mungkin akan menjadi orang dewasa yang tidak memiliki kemampuan untuk membentuk hubungan positif yang mereka butuhkan di kemudian hari.

Sumber: www.psycoholytoday.com (dengan penyesuaian)

[:]