Setiap tahun, perayaan Natal selalu diwarnai dengan cerita tentang Sinterklas. Walaupun hanya tokoh fiksi, ia adalah sosok ikonik yang dikenal dengan keceriaan dan sikap kasihnya terhadap sesama terutama anak-anak.
Dalam pandangan banyak orang, Sinterklas adalah simbol kebaikan, kemurahan hati, pembawa kebahagiaan, dan semangat memberi yang tanpa pamrih. Namun, lebih dari sekedar cerita, ada beberapa nilai positif yang bisa kita teladani dari karakter Sinterklas untuk mengembangkan kualitas diri kita.
Mari mengamati sosok legenda ini bersama-sama untuk meneladaninya di momen perayaan Natal 2024 ini. Tak hanya untuk mengembangkan karakter baik dalam diri, tetapi juga menciptakan lingkungan sosial yang semakin hangat.
1. Kepedulian pada Orang Lain
Salah satu nilai utama yang kita lihat pada Sinterklas adalah kepeduliannya terhadap orang lain, terutama anak-anak. Sinterklas selalu berusaha untuk memberikan kebahagiaan dan keceriaan dengan hadiah yang dia berikan, tanpa memandang status sosial atau latar belakang keluarga.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa meneladani sikap Sinterklas dengan lebih peduli terhadap kebutuhan orang lain. Kepedulian bukan hanya tentang memberi materi, tetapi juga empati dengan memberikan waktu dan perhatian kepada orang lain yang membutuhkan.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Karremans, et al (2014), empati adalah faktor penting dalam membangun hubungan yang positif dengan orang lain. Orang yang memiliki empati lebih cenderung untuk membantu dan mendukung orang lain dalam kesulitan, yang tentunya dapat memperbaiki kualitas hubungan interpersonal.
Dalam momen Natal ini, mari kita dapat menjadi pribadi yang lebih peduli pada sesama untuk menciptakan lingkungan yang semakin hangat.
2. Memberi tanpa Pamrih
Sinterklas dikenal dengan kedermawanannya yang luar biasa. Dia memberikan hadiah kepada semua anak yang baik tanpa berharap imbalan apa pun. Hal ini mencerminkan nilai penting dari memberi tanpa pamrih.
Memberi tanpa pamrih tidak hanya membawa kebahagiaan bagi mereka yang menerima. Tindakan ini juga memiliki dampak positif pada kesejahteraan psikologis kita. Penelitian oleh Aknin, et al (2013) menunjukkan bahwa memberi dapat meningkatkan perasaan bahagia dan meningkatkan kesejahteraan emosional seseorang.
Ketika kita memberi, baik itu berupa waktu, perhatian, atau materi, kita merasa lebih terhubung dengan orang lain dan merasa lebih berarti. Inilah yang membuat tindakan memberi bisa mendatangkan kebahagiaan bagi kedua belah pihak.
3. Memotivasi Perilaku Baik
Dari tahun ke tahun kita sering menonton film tentang Sinterklas yang membuat daftar anak baik untuk mendapat hadiah dan anak nakal yang tidak mendapat hadiah Natal. Dalam kisah ini, hadiah menjadi motivasi ekstrinsik yang memotivasi anak-anak untuk selalu berperilaku baik.
Kita tidak perlu memberikan hadiah untuk orang lain agar memotivasinya untuk terus berperilaku baik. Namun, kita dapat tetap memotivasi dan menularkan perilaku baik dengan memulainya dari perilaku baik kita sendiri.
Hal ini sudah diteliti oleh Grant & Gino (2010). Penelitian ini membuktikan bahwa tindakan kebaikan seperti memberi bantuan pada orang yang membutuhkan dan sikap empati dapat menciptakan efek berantai. Dengan demikian, tindakan baik kita dapat memicu dampak positif dalam kehidupan bermasyarakat.
Kabar lebih baiknya lagi, perilaku positif tersebut tidak hanya akan meningkatkan kesejahteraan kita sebagai individu. Namun, juga akan memperkuat ikatan sosial sehingga menciptakan lingkungan yang hangat.
4. Semangat Menghadapi Tantangan
Sinterklas, meskipun dalam cerita seringkali berhadapan dengan berbagai tantangan, tetap teguh menjalankan misinya. Dari mulai perjalanan panjang ke berbagai belahan dunia hingga menghadapi cuaca buruk, Sinterklas selalu tampil dengan semangat yang tinggi dan keyakinan bahwa kebaikan akan selalu menang.
Semangat untuk selalu optimis seperti ini bisa menjadi teladan bagi kita untuk menghadapi tantangan hidup dengan optimisme dan kegigihan.
Fredrickson (2013) mengatakan bahwa memiliki sikap positif dan optimis dapat meningkatkan daya tahan psikologis kita dalam menghadapi kesulitan. Optimisme memberi kita harapan, yang memungkinkan kita untuk terus bergerak maju meskipun ada hambatan.
Dalam konteks Natal, kita bisa merenungkan bagaimana Sinterklas tetap berusaha membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, terlepas dari segala rintangan yang ada di depannya. Hal ini mengajarkan kita pentingnya tetap fokus pada tujuan baik dan bertindak dengan kegigihan.
Penutup
Sinterklas bukan hanya sebuah legenda yang menghibur, tetapi juga sosok yang memiliki banyak nilai yang bisa kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kepedulian, kedermawanan, motivasi berbuat baik, dan optimisme, kita dapat mengembangkan karakter yang lebih baik.
Mari kita mengembangkan karakter baik dan menciptakan lingkungan sosial yang hangat di momen Natal ini!
(SH)
Daftar Pustaka
Aknin, L. B., Barrington-Leigh, C., Dunn, E. W., Helliwell, J. F., & Biswas-Diener, R. (2013). Prosocial spending and well-being: Cross-cultural evidence for a psychological universal. Journal of Personality and Social Psychology, 104(3), 555–571. https://doi.org/10.1037/a0031578
Fredrickson, B. L. (2013). Positive emotions broaden and build. In The Oxford Handbook of Positive Psychology (pp. 191–202). Oxford University Press.
Grant, A. M., & Gino, F. (2010). A little thanks goes a long way: Explaining why gratitude expressions motivate prosocial behavior. Journal of Personality and Social Psychology, 98(6), 946–959. https://doi.org/10.1037/a0018095
Karremans, J. C., Stroebe, W., & Claus, L. (2014). Empathy and helping: The role of empathy in promoting prosocial behavior. Personality and Social Psychology Bulletin, 40(4), 477-491. https://doi.org/10.1177/0146167213514204
Baca artikel lainnya…
- Attachment Trauma
- Anak Korban Gaslighting Orang Tua?
- Disiplin Konvensional vs Disiplin Positif
- 7 Kalimat Ampuh untuk Memotivasi Diri Sendiri
Ikuti akun instagram kami untuk mendapatkan info-info terkini. Klik disini!