Labeling atau pelabelan merupakan proses pemberian identitas tertentu terhadap seseorang berdasarkan persepsi, penilaian, atau asumsi sosial. Dalam konteks pendidikan dan perkembangan anak, labeling sering kali dilakukan oleh orang dewasa seperti guru, orang tua, maupun lingkungan sekitar pada anak-anak.
Label tersebut bisa berupa sebutan seperti “anak nakal”, “pemalas”, “bodoh”, “anak pintar”, hingga “bermasalah”. Meskipun terkadang niat pelabelan ini bersifat spontan dan tidak disadari, dampaknya terhadap perkembangan psikologis anak bisa sangat besar, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Labeling dan Perkembangan Anak
Labeling pada anak memiliki dampak signifikan terhadap pembentukan konsep diri. Anak-anak, terutama pada usia dini, masih dalam tahap mencari identitas dan sangat mudah dipengaruhi oleh pandangan orang-orang di sekitarnya.
Ketika anak sering mendapat label negatif, hal ini bisa menurunkan rasa percaya diri, menimbulkan rasa malu, dan menghambat potensi diri. Sebaliknya, label positif yang terlalu tinggi juga bisa menciptakan tekanan dan kecemasan karena anak merasa harus terus memenuhi ekspektasi tersebut.
Dampak Buruk Labeling
Baik label positif maupun negatif sama-sama dapat memberikan dampak buruk. Berikut ini gambaran dampak negatif tindakan labeling dari orang dewasa ke anak-anak:
1. Menurunkan Motivasi Belajar
Anak yang mendapat label seperti “bodoh” atau “pemalas” cenderung kehilangan motivasi untuk belajar karena merasa bahwa usahanya tidak akan mengubah persepsi orang lain terhadap dirinya.
2. Terbentuknya Self-Fulfilling Prophecy
Label yang diberikan secara terus-menerus bisa membuat anak mempercayai label tersebut dan bertindak sesuai dengannya. Ini disebut sebagai self-fulfilling prophecy, yaitu suatu prediksi yang secara tidak langsung menyebabkan dirinya menjadi kenyataan.
Contohnya, anak yang terus dilabeli “nakal” bisa tumbuh menjadi pribadi yang memang sulit diatur karena merasa itu adalah identitasnya.
3. Gangguan Emosional dan Sosial
Labeling bisa menimbulkan gangguan emosional seperti stres, cemas, dan rendah diri. Misalnya, label “pintar” membuat anak cemas jika tidak mampu menjadi seperti label tersebut.
Dalam jangka panjang, anak bisa mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, menjadi mudah tersinggung, atau bahkan menarik diri dari lingkungan.
4. Diskriminasi dan Stigma Sosial
Anak yang diberi label positif maupun negatif dapat mengalami perlakuan yang berbeda dari teman sebaya atau guru. Ini bisa memperkuat isolasi sosial dan memperburuk kepercayaan dirinya.
Label Positif: Nyatanya tidak Selalu Baik
Label positif seperti “anak rajin” dan “pintar” memang sering orang dewasa gunakan untuk memotivasi anak maupun juga sebagai bentuk apresiasi. Meskipun terdengar tidak berbahaya, label positif yang berlebihan juga bisa berdampak buruk.
Sebutan seperti “anak pintar” bisa menimbulkan tekanan yang besar pada anak. Ketika mereka gagal memenuhi harapan, mereka bisa merasa bersalah, cemas, atau bahkan takut mencoba hal baru karena khawatir mengecewakan orang lain.
Selain itu, label positif yang terlalu berlebihan juga bisa menyebabkan anak menjadi sombong, merasa superior dibanding teman-temannya, atau tidak mampu menerima kegagalan dengan baik.
Oleh sebab itu, pada dasarnya akan lebih bagi para orang dewasa untuk menghindari labeling baik positif maupun negatif ketika berbicara dengan anak.
Tips Menghindari Labeling
Agar terhindar dari dampak buruk labeling, berikut beberapa pendekatan yang bisa diterapkan:
* Fokus pada Perilaku, Bukan Individu
Alih-alih mengatakan “kamu anak nakal”, lebih baik katakan “perilakumu tadi tidak baik karena menyakiti temanmu”.
* Dengarkan dan Hargai Anak
Anak yang merasa didengar dan dihargai akan lebih terbuka dalam mengembangkan potensi dirinya tanpa tekanan dari label-label sosial.
* Kolaborasi Orang Tua dan Guru
Penting bagi pendidik dan orang tua untuk menyamakan persepsi dalam mendampingi perkembangan anak agar tidak terjadi pelabelan yang merugikan.
Penutup
Labeling pada anak, baik yang negatif maupun positif, memiliki potensi besar untuk memengaruhi perkembangan psikologis, sosial, dan akademik anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua, guru, dan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memberikan penilaian terhadap anak.
Alih-alih melabeli, berikanlah dukungan, pengertian, dan ruang bagi anak untuk berkembang sesuai dengan potensinya. Anak bukanlah produk tetap, melainkan pribadi yang terus tumbuh dan belajar.
Penulis: Anastasia Fanny Damayanti, M.Psi., Psi. (Psikolog Jenjang TK-SD BPK PENABUR Jakarta)
Daftar Pustaka
Santrock, J. W. (2012). Life-Span Development (13th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
Hurlock, E. B. (2002). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Edisi Kelima). Jakarta: Erlangga.
Mulyasa, E. (2014). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Goffman, E. (1963). Stigma: Notes on the Management of Spoiled Identity. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.
Suyanto, S. (2005). Problematika Pendidikan Anak. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Baca artikel lainnya…
Terjebak dalam Pikiran Sendiri..
Apakah Kamu Seorang Optimis? Ini 5 Tandanya!
Mengenal Generasi Alfa dan Tips Mendampinginya
5 Topik Penting dalam Percakapan Orang Tua – Anak sejak Dini