Banyak orang tua muda masa kini memasuki fase pengasuhan dengan membawa beban tersendiri. Mungkin itu berupa pengasuhan orang tua terdahulu yang tidak sehat, riwayat keluarga yang tidak stabil, pengabaian, hingga adanya kekerasan fisik atau emosional di masa lalu.

Beban-beban ini tidak sedikit mendorong para orang tua kini berkomitmen untuk memutuskan mata rantai pola asuh yang tidak ideal. Mereka berusaha agar anak-anaknya kini tidak mengalami berbagai hal tidak baik yang mereka alami dulu hingga tumbuh dengan membawa beban seperti yang mereka alami sekarang.

Sayangnya, banyak orang tua yang kemudian terjebak pada perubahan 180⁰. Contohnya, dulu diabaikan, sekarang menjadi orang tua helikopter yang terus-menerus mengawasi anak sehingga justru sering menimbulkan cekcok. Akibatnya, anak-anak juga tumbuh dengan membawa beban tersendiri, hanya saja berbeda dengan yang orang tuanya dulu alami.

Meninggalkan Jejak, Membangun Pola Asuh yang Efektif

Namun tak perlu terlalu kuatir, Schiraldi (2025) menyebutkan bahwa orang tua yang tumbuh dengan jejak pola asuh kurang baik sekalipun, tetap bisa menjadi orang tua yang efektif. Syaratnya adalah mengupayakan proses pemulihan diri dan menerapkan pola asuh yang sehat untuk generasi berikutnya.

Berikut ini adalah 4 hal yang dapat para orang tua coba terapkan untuk membangun pola asuh yang efektif walau berangkat dari jejak masa lalu yang kurang baik:

1. Mengenali Luka Masa Lalu

Langkah pertama adalah menyadari bahwa “Ya, saya pernah mengalami hal sulit ketika kecil” dan bahwa hal tersebut bisa memengaruhi pola asuh yang saya terapkan pada anak-anak saya sekarang”. Tanpa pengakuan ini, perlakuan terhadap diri sendiri dan anak bisa secara tak sadar mengulang pola lama (Lengua, 2020).

Kemudian, cobalah untuk menjawab beberapa pertanyaan ini untuk melakukan refleksi yang lebih mendalam:

  • * Apa yang saya rasakan akhir-akhir ini terhadap anak saya?
  • * Apakah ada yang mengingatkan saya pada masa kecil saya?
  • * Apa yang membuat saya sangat marah atau justru menarik diri dari anak saya?

Pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu para orang tua untuk mengenali luka masa lalu dan bergerak untuk pulih.

2. Melatih Regulasi Emosi

Orang tua adalah model utama bagi anak-nak dalam hal mengelola emosi. Bagaimana orang tua mengekspresikan berbagai emosi seperti marah, frustasi, dan kecewa akan menjadi contoh bagi anak-anak (Palmer, et al, 2019).

Pada orang tua dengan luka masa kecil yang belum ditangani, ledakan emosi bisa jadi terjadi sewaktu-waktu. Di sisi lain, orang tua mungkin berupaya keras menyimpan emosinya dengan cara menarik diri. Tanpa orang tua sadari, anak-anak menangkap semua itu.

Oleh sebab itu, para orang tua dengan jejak pola asuh yang tidak ideal perlu untuk melatih regulasi emosi. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

  • * Pelajari teknik sederhana seperti “tarik napas dalam-4 detik, tahan-4 detik, lepaskan-4 detik” saat Anda merasa mulai kesal.
  • * Saat mulai marah atau kecewa, berhenti sebentar dan katakan ke anak: “Maaf ya, Papa/Mama butuh waktu sebentar supaya bisa bicara dengan baik.” Dengan begitu, orang tua mengajarkan anak bahwa emosi boleh ada,  dan dapat direspon dengan sadar.
  • * Diskusikan dengan anak setelah momen sulit. Misalnya,  “Papa/mama tadi marah karena saya merasa … Apa yang kamu rasakan?” Ini memberi anak ruang untuk mengenali emosi sendiri dan menyampaikan bahwa setiap orang (termasuk orang tua) bisa belajar.

3. Menegakkan Ketegasan yang Penuh Kasih

Jika para orang tua tumbuh dengan jejak pola asuh disiplin yang keras atau tidak jelas ketika kecil, sangat mungkin akan “gugup’ atau “canggung” ketika kemudian harus menerapkan batasan dengan tegas (Li, et al, 2025). Para orang tua dapat menjadi terlalu permisif atau sebaliknya menjadi terlalu kaku. Padahal, pola asuh yang efektif adalah yang tegas tapi hangat.

Beberapa tips yang dapat orang tua lakukan untuk menegakkan ketegasan dan kehangatan secara bersama-sama adalah sebagai berikut:

  • * Buat aturan rumah bersama anak. Contohnya, (1) Waktu layar maksimal 1 jam setelah PR selesai, (2) Setelah makan anak-anak membantu membereskan meja dan mencuci piring. Keterlibatan anak dalam menyusun aturan akan membantu mereka merasa memiliki.
  • * Ketika orang tua perlu menegakkan aturan, sampaikan dengan empati. Misalnya, “Papa/Mama tahu kamu ingin main game dulu, tapi kita sudah sepakati aturan untuk selesai dulu PR-nya supaya besok tidak terburu-buru”.
  • * Jika anak melanggar aturan, hindari hukuman yang hanya meredam tanpa menjelaskan. Akan lebih baik bagi orang tua untuk mengajak anak evaluasi bersama. Misalnya, “Apa yang membuatmu memilih main dulu? Bagaimana besok kita bisa atur supaya tetap main tapi tugas juga selesai?”

4. Membangun Kelekatan Emosional

Kelekatan emosional (secure attachment) sangat krusial terutama bagi anak-anak hingga usia remaja. Pada periode ini, anak-anak masih sangat membutuhkan “merasakan” bahwa orang tua hadir untuk mereka, baik secara fisik dan emosional (Palmer, et al, 2019). Hal ini yang menjadi pondasi untuk membuat anak-anak merasa aman akan keberadaannya di dunia ini.

Langkah praktis yang dapat para orang lakukan sebagai berikut:

  • * Jadikan rutinitas harian untuk “check-in” dengan anak. Contohnya, setelah pulang sekolah tanyakan “Apa yang paling menyenangkan hari ini? Apa yang agak membuatmu kesal?”
  • * Buat momen bonding. Misalnya berjalan kaki singkat, main bersama, atau ngobrol di mobil tanpa gadget.
  • * Ketika anak menceritakan kesalahan atau masalah, tahan keinginan untuk menegur cepat. Cobalah untuk mendengarkan dulu, ucapkan sesuatu seperti “Papa/Mama pikir kejadian ini membuatmu merasa…” lalu bersama-sama cari solusi.

Dari Didikan dulu ke Cara Mendidik Kita Kini

Pengalaman masa kecil yang sulit bukanlah batu sandungan yang tak bisa dilampaui. Para orang tua perlu memandang jejak pengasuhan masa lalu sebagai tantangan yang bisa diubah menjadi kekuatan.

Dengan kesadaran dan strategi yang tepat, para orang tua muda masa kini punya peluang besar untuk menciptakan lingkungan yang berbeda, lebih aman, dan lebih mendukung bagi anak-anak dengan menerapkan beberapa tips diatas.

(SH)

Referensi

Lengua, Liliana J. (2020) Adversity Can Affect Child Self-Regulation and Resilience. Published on https://psychologytoday.com. Accessed in November 2025.

Li, Dexian, et al (2025) Parenting pathways to friendship: how Self-Control and emotion management skills mediate preschoolers’ social lives in China?. BMC Psychology, Article Number: 325.

Palmer, Alyssa, et al (2019) Parental Emotion Regulation Strategies and Parenting Quality Predict Child Internalizing Symptoms in Families Experiencing Homelessness. National Library Medicine. DOI: 10.1111/sode.12435.

Schiraldi, Glenn R. (2025) Raising Great Children After Your Difficult Childhood. Published on https://psychologytoday.com. Accessed in November 2025.

Baca artikel lainnya…

Gangguan Bahasa Ekspresif pada Anak Sekolah Dasar dan Penanganannya

Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Sekolah

Fungsi Eksekutif pada Anak dan Kaitannya dengan Kesiapan Belajar

Fenomena Anak Zaman Sekarang: Ucapan Kasar..