Dari sekian banyak interaksi saya dengan ibu saya bertahun-tahun yang lalu, ada satu yang sangat jelas. Saya ingat ketika Ibu menyuruh saya ke jalan utama, sekitar dua puluh meter dari rumah, untuk mengundang sekelompok pencari kerja musiman yang lewat untuk makan di rumah kami.
Untuk itu, ibu meminta saya membawa wadah dan mengumpulkan kotoran sapi kering untuk membuat api di tungku. Kemudian saya harus menyiapkan makanan untuk kelompok pencari kerja tersebut.
Membayangkan membuat api tungku di luar pada siang hari, memasak dalam panci besar berkaki tiga di tengah teriknya matahari, sudah cukup untuk membuat malaikat sekalipun kesal. Saya tak berhasil menyembunyikan perasaan saya dari Ibu dan setelah melayani kelompok itu, ia memanggil saya ke beranda tempat ia biasanya duduk untuk menjahit dan merajut.
Menatap lurus ke mata saya, ia berkata, “Tsholofelo, mengapa kau merajuk ketika aku memintamu menyiapkan makanan untuk orang-orang miskin yang melarat itu?” Meskipun saya berusaha menyangkal tuduhannya dan menggunakan panas api dan matahari sebagai alasan atas perilaku saya yang dituduhkan, Ibu menatap saya dengan tegas, berkata, “Lonao ga lo na nko” – “Kaki tidak punya hidung”. Artinya, kamu tidak dapat mendeteksi masalah apa pun yang mungkin ada di depanmu.
Seandainya saya tidak memberi makan sekelompok orang ini, mungkin saja, dalam perjalanan saya di masa mendatang, saya mendapati diri saya berada di bawah belas kasihan orang lain. Seolah itu belum cukup untuk mempermalukan saya, Ibu melanjutkan: “Motho ke motho ka motho yo mongwe”. Arti harfiahnya, “Seseorang menjadi seseorang karena orang lain”.
Cerita ini diambil dari “African Wisdom” oleh Ellen K. Kuzwayo
Moral Cerita: Kita menjadi manusia dengan memperlakukan manusia lain secara manusiawi.
Diadaptasi dari: Love stays http://www.rogerdarlington.me.uk/ (dengan penyesuaian)
Cerita Inspiratif lain..

