Apa yang Membuat Mereka Cemas?
Barangkali sudah menjadi informasi umum bahwa generasi Z rentan mengalami kecemasan. Salah satu penyebabnya adalah tingginya waktu layar yang secara langsung membawa beberapa efek negatif. Antara lain adalah FOMO (Fear of Missing Out), perbandingan sosial, dan paparan berbagai konten negatif lainnya melalui media sosial yang pada akhirnya menjadi pemicu kecemasan.
Di sisi lain, Jenkins (2025) melaporkan bahwa generasi Alpha juga rentan mengalami kecemasan. Padahal, generasi yang lahir setelah 2010 ini bahkan sebagian besar belum menjadi pengguna aktif smartphone seperti yang terjadi pada generasi Z.
Lantas, apa yang membuat generasi Alpha rentan menjadi generasi cemas?
Waktu Layar bukan Sumber Kecemasan Generasi Alpha
Generasi Alpha, walau mungkin belum memiliki smartphone pribadi, tetapi mereka lahir dan dibesarkan oleh generasi yang tak pernah lepas dari smartphone, yaitu milenial. Jadi, sedikit banyak generasi Alpha juga menikmati manfaat smartphone walau tidak secara langsung sebagai pengguna utama.
Generasi Alpha pada dasarnya tidak menjadi cemas karena isu-isu terkait smartphone seperti yang dialami oleh generasi Z. Mereka justru menjadi cemas karena banyak kepastian dan kemudahan yang disediakan oleh generasi milenial sebagai orang tua mereka.
Contoh sederhananya adalah kepastian arah jalanan dan waktu tiba yang disediakan oleh aplikasi seperti google map. Tentang hal ini, generasi Alpha barangkali tidak pernah membayangkan bahwa dulu kita harus turun dari kendaraan, menyapa warga sekitar, dan bertanya arah jalan.
Contoh lainnya adalah mudahnya mencari jawaban dari AI seperti chat gpt yang kini makin canggih beriringan dengan lahir dan tumbuhnya generasi Alpha. Generasi milenial mungkin adalah generasi terakhir yang mencari informasi dengan menelisik lembar demi lembar buku di perpustakaan. Sedangkan anak-anaknya, tidak familiar dengan aktivitas tersebut.
Pada kenyataannya, generasi Alpha memang lahir dan tumbuh dengan dukungan teknologi dan internet dari orang tua mereka. Ketika para orang tua menyambut manfaat dari teknologi yang semakin berkembang, generasi Alpha justru lahir dan tumbuh menjadi menjadi generasi cemas.
Generasi Alpha mudah menjadi kewalahan ketika berhadapan dengan situasi yang sulit dan tidak pasti. Karena selama ini, yang mereka tahu adalah jawaban dan instruksi cepat yang mereka dapatkan dari orang tua maupun akses internet. Mereka tidak familiar dengan sumber informasi maupun solusi lainnya.
Kondisi inilah yang lebih rentan menjadi sumber kecemasan generasi Alpha. Mereka akan segera merasa tertekan begitu berhadapan dengan kondisi sulit dan tidak pasti, terutama tanpa akses pada teknologi maupun jawaban instan dari orang tua.
Selain Cemas, Ini Dampak Negatif Teknologi bagi Generasi Alpha
Kurang Fasih dalam Interaksi Sosial
Contoh tentang aplikasi google map yang disebutkan diatas, membuktikan bahwa teknologi dan internet mengurangi interaksi sosial yang sebelumnya umum dilakukan. Generasi Alpha tumbuh dengan terbiasa mencari penyelesaian masalah melalui genggaman smartphone. Baik karena simpel, namun tidak sepenuhnya.
Berkurangnya teladan dan pengalaman bagaimana berinteraksi sosial dapat membuat generasi Alpha menjadi kurang fasih dalam hal-hal penting terkait interaksi sosial. Seperti misalnya adab tentang menyapa terlebih dahulu sebelum mulai interaksi, menatap lawan bicara selama mengobrol, dll.
Beberapa kecanggungan atau ketidaktahuan lainnya juga sangat mungkin terjadi dalam interaksi sosial para generasi Alpha.
Tidak Tahu Cara Mengekspresikan Emosi
Jenkins (2025) juga mencatat bahwa generasi Alpha yang diasuh oleh generasi milenial kemungkinan kurang memahami bagaimana mengekspresikan emosi sebagai dampak hidup dengan dukungan teknologi.
Selain kurang pengalaman sosial, generasi Alpha juga kurang menyaksikan teladan bagaimana orang tua mereka mengekspresikan emosi dengan tepat.
Apa yang mereka lihat sehari-hari mungkin adalah bagaimana orang tua mereka mengekspresikan berbagai emosi pada smartphone setelah bicara melalui sambungan telepon atau membaca pesan teks.
Dengan demikian, ekspresi tersebut bukanlah ekspresi yang sama yang akan para orang tua tampilkan saat berhadapan langsung dengan orang yang mengirim pesan. Ini membuat anak-anak kurang punya referensi tentang bagaimana mengekspresikan emosinya dengan tepat dalam lingkungan sosial yang nyata.
Apa yang bisa Orang Tua Lakukan?
Berikut ini tiga hal yang dapat orang tua generasi milenial lakukan untuk membantu anak-anak generasi Alpha menghindar dari dampak negatif teknologi.
Tidak Selalu Menyediakan Solusi
Pertama, Jenkins (2025) menyarankan agar orang tua menormalkan memberi jawab “tidak tahu” dan “coba kamu pikirkan” ketika anak bertanya atau meminta solusi. Hal ini dilakukan untuk mendorong anak beradaptasi dengan kondisi ambigu, berpikir kritis, dan mencari ide kreatifnya sendiri sebagai solusi, alih-alih hanya menjadi penerima informasi dan instruksi secara instan (Ziatdinov, et al, 2021).
Dorong Aktivitas Non Digital
Orang tua perlu mengadakan momen-momen yang mendorong aktivitas non digital. Ini dilakukan untuk meminimalkan ketergantungan pada teknologi dan mendorong anak-anak untuk berkolaborasi dengan orang lain.
Jenkins (2025) memberi contoh dengan meminta anak generasi Alpha untuk menemukan jalan keluar di tempat yang baru dan asing seperti bandara atau stasiun. Ini akan mendorong mereka untuk cermat memperhatikan setiap tanda, bertanya pada petugas, dan pada akhirnya menemukan jawabannya sendiri.
Walau aktivitas semacam ini akan memakan waktu lebih lama daripada apabila orang tua yang bertindak sebagai sumber navigasi, hal ini baik untuk dilakukan.
Orang Tua Menjadi Teladan
Orang tua perlu menjadi teladan bahwa manusia dapat hidup dengan baik dan tidak cemas walau tidak terus menerus terhubung dengan teknologi. Contoh sederhananya dengan makan dan mengobrol bersama keluarga tanpa gadget.
Orang tua dapat menunjukkan bahwa interaksi sosial secara langsung adalah hal yang sangat berarti sebagai manusia; kebosanan dan kekosongan waktu dapat dihilangkan tanpa bergantung pada teknologi; serta, kita dapat menemukan ide kreatif dan solusi dengan berkolaborasi dengan sesama.
Penutup
Generasi milenial yang saat ini telah menjadi orang tua menyambut perkembangan teknologi dan internet karena menerima banyak manfaat. Namun, anak-anak generasi Alpha yang lahir dari para generasi milenial rupanya berpotensi tumbuh menjadi generasi cemas karena kondisi ini.
Oleh sebab itu, para orang tua perlu secara aktif menerapkan pola pengasuhan yang mendorong anak tidak tergantung pada teknologi. Yaitu, dengan tidak selalu menyediakan solusi instan, mendorong aktivitas non digital, dan menjadi teladan.
(SH)
Referensi
Höfrová, Alena, et al (2024) A systematic literature review of education for Generation Alpha. Discover Education (2024) 3:125. https://doi.org/10.1007/s44217-024-00218-3.
Jetkins, Ryan (2025) Why Gen Alpha Is the New Anxious Generation. Published on www.psychologytoday.com. Accessed on July 1, 2025.
Ziatdinov, Rushan. Cilliers, Juanee (2021) Generation Alpha: Understanding the Next Cohort of University Students. European Journal of Contemporary Education, E-ISSN 2305-6746 2021. 10(3): 783-789. DOI: 10.13187/ejced.2021.3.783
Baca artikel lainnya…
Menurunnya Prestasi Akademik Anak…
Meningkatkan Keterampilan Menulis pada Anak Usia Dini
5 Strategi Belajar untuk Sukses Hadapi Ujian
Sederhana, tapi bisa sangat Berarti bagi Orang Lain
Ikuti akun Instagram kami untuk mendapatkan info-info terkini. Klik disini!