Kekosongan yang Dirasakan Para Orang Tua Ketika Anak-Anak Mulai Pergi Kuliah
Masa perkuliahan tahun pelajaran baru telah dimulai akhir bulan Agustus ini. Banyak anak remaja yang meninggalkan rumah dan memulai kehidupan mandirinya karena berkuliah di kota bahkan negara yang berbeda dari tempat tinggal orang tua.
Tentang hal ini, ketika anak-anak akhirnya lulus dari sekolah menengah dan meninggalkan rumah untuk melanjutkan kuliah, para orang tua dapat mengalami berbagai emosi secara bersamaan.
Bangga, lega, sekaligus juga cemas dan sedih yang lama-kelamaan mulai terasa mengganggu. Ketika hal ini terjadi, para orang tua mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami sindrom sangkar kosong atau empty nest syndrome (ENS).
Apa Itu Sindrom Sangkar Kosong?
Sindrom sangkar kosong adalah sebuah fase psikologis yang umum dialami oleh para orang tua ketika anak-anak mulai meninggalkan rumah untuk kuliah. Aktivitas rutin yang biasa dilakukan orang tua untuk anak jadi berkurang, suasana rumah menjadi lebih sepi, dan mungkin beberapa perubahan lainnya yang ternyata memicu berbagai emosi yang mendalam.
Bangga karena anak mulai berkuliah di kampus favorit, lega karena telah berhasil mendampingi anak menyelesaikan sekolah, namun juga cemas karena anak pergi merantau, dan sedih karena mulai merindukan kedekatan dengan anak.
Secara teori, para ahli bersepakat bahwa sindrom sangkar kosong merujuk pada fenomena subyektif yang orang tua alami sebagai reaksi atas kepergian dan kemandirian anak terakhir dari rumah untuk melanjutkan pendidikan maupun bekerja. Reaksi unik ini adalah manifestasi dari adanya perubahan peran sebagai orang tua yang terwujud dalam bentuk gejolak emosi hingga perubahan perilaku. (Khatir, et al, 2024)
Terdapat beberapa gejala nyata ketika orang tua mengalami sindrom sangkar kosong, sebagai berikut:
- * Adanya perasaan kehilangan tujuan hidup
- * Berbagai emosi negatif; seperti kesedihan, kesepian, kecemasan, dan frustasi
- * Merasa hampa hingga sulit berkonsentrasi
- * Ketegangan hubungan dengan pasangan
Beberapa gejala ini umumnya dirasakan oleh para orang tua sejak anak terakhir keluar dari rumah dan berlangsung hingga 18-24 bulan berikutnya.
Tidak Semua Orang Tua Mengalami Sindrom Sangkar Kosong
Tidak semua orang tua akan mengalami fenomena ini ketika anak-anak mereka mulai meninggalkan rumah baik untuk kuliah maupun bekerja. Namun, memang terdapat kerentanan pada orang-orang tertentu yang membuatnya lebih mungkin mengalami hal ini.
Berikut ini beberapa ciri orang tua yang rentan mengalami sindrom sangkar kosong:
- * Orang tua yang identitasnya tertumpu pada peran sebagai pengasuh utama anak (Khatir, et al, 2024)
Orang dewasa tentu menjalani berbagai peran yang turut menentukan identitasnya. Antara lain sebagai pekerja di kantor, sebagai orang tua di rumah, sebagai pelayan jemaat di gereja, dan mungkin juga sebagai anak yang mengurus orang tua.
Namun, orang tua yang merasa bahwa menjalani peran sebagai orang tua adalah inti dari identitasnya, lebih rentan mengalami sindrom sangkar kosong. Sebab, saat perannya bagi anak mulai berkurang karena anak yang semakin mandiri, orang tua dapat mulai merasa kehilangan identitas utamanya.
- * Orang tua dengan hubungan pernikahan yang tidak stabil (Hartanto, et al, 2024)
Pernikahan yang tidak stabil membuat orang tua cenderung menumpukan tujuan hidup dan sumber kebahagiaan pada anak-anak. Sehingga, saat anak mulai mandiri, orang tua mengalami gejolak emosi karena tanpa sadar menjadi kuatir kehilangan tujuan hidup dan sumber kebahagiaan.
- * Mereka yang terbiasa memandang perubahan sebagai sumber stres daripada tantangan (Hartanto, et al, 2024)
Kebiasaan yang terbentuk selama proses pengasuhan anak menempatkan para orang tua dalam zona nyaman. Semua terasa teratur dan dalam kontrol. Namun, ketika perubahan terjadi, beberapa orang tua dapat lebih memandang ini sebagai sumber stres daripada tantangan untuk berkembang.
Ketika ada para orang tua yang memandang kemandirian anak sebagai kesempatan baru untuk lebih membahagiakan diri sendiri (misalnya bergabung ke komunitas sosial baru atau memulai lagi hobi), beberapa orang tua lainnya justru memang menjadi stres.
- * Sedang berhadapan dengan perubahan besar lainnya; seperti pensiun, menopause, kehilangan pasangan, dll (Chan, 2023)
Tak dapat disangkal, beberapa perubahan besar dalam hidup yang terjadi secara bersamaan tentu dapat memicu gejolak emosional.
Tips Menghadapi Sindrom Sarang Kosong
Beberapa hal dapat dilakukan oleh para orang tua yang mengalami sindrom ini untuk mengurangi gejala dan menemukan dirinya lagi. Berikut ini diantaranya:
1. Pertahankan komunikasi dengan anak
Komunikasi yang baik dengan anak yang sudah berada di luar kota akan mempertahankan kedekatan emosional antara orang tua dengan anak. Hal ini akan membantu orang tua beradaptasi dengan perubahan yang terjadi (Stein, 2023; Wooll, 2022)
2. Memulai kembali hobi lama
Beberapa orang tua mungkin sudah meninggalkan hobi ketika dulu mulai sibuk dengan peran pengasuhan anak. Sehingga, waktu kosong mulai terbentuk lagi saat anak sudah tidak di rumah. Daripada membiarkan waktu kosong ini menjadi kesempatan untuk munculnya gejala sindrom sarang kosong, orang tua sebaiknya memulai kembali hobi lama (Wooll, 2022).
Melakukan hobi sebenarnya tidak hanya untuk menghabiskan waktu. Sebab, menekuni hobi dapat mendorong seorang lebih banyak merasakan emosi positif. Tak hanya itu, hobi juga berkontribusi dalam pembentukan identitas diri seseorang.
3. Perkuat relasi dengan pasangan dan orang terdekat lainnya
Ketika kedua orang tua fokus pada anak, tak jarang relasi di antara pasangan orang tua sendiri mulai merenggang. Jadi, ketika anak-anak sudah meninggalkan rumah, ini adalah waktunya untuk kembali memperkuat relasi dengan pasangan (Stein, 2023). Jadi, kedua orang tua dapat menjadwalkan quality time bersama.
Selain itu, para orang tua juga dapat berupaya untuk memperkuat hubungan dengan orang terdekat lain seperti saudara kandung maupun sahabat untuk menekan gejala sindrom sarang kosong.
4. Membangun rutinitas baru
Ketika anak-anak meninggalkan rumah, beberapa rutinitas mungkin tidak ada lagi. Hal ini yang dapat memicu timbulnya perasaan kosong. Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya mulai membangun rutinitas baru untuk menggantikannya.
Chan (2023) menyarankan agar orang tua yang mengalami sindrom sarang kosong untuk fokus pada aktivitas self-care yang baik untuk fisik dan mental. Misalnya berolahraga, berkebun, membaca, atau aktivitas positif lainnya.
5. Meminta bantuan profesional
Apabila gejala sindrom ini sudah terasa sangat tidak nyaman sehingga mengganggu keseharian, sebaiknya orang tua tidak ragu mencari bantuan profesional (Wooll, 2022)
Sarang Kosong adalah Awal yang Baru
Berangkatnya anak-anak keluar kota untuk kuliah adalah momen penting bagi semua anggota keluarga di rumah. Saat hal ini terjadi, rumah yang menjadi lebih sepi tidak perlu menjadi layaknya “sarang kosong” bagi para orang tua.
Para orang tua dapat menjadikan hal ini sebagai awal yang baru. Menerima bahwa anak-anak sudah dewasa dan semakin mandiri, sehingga orang tua dapat mulai menyesuaikan diri dengan perubahan peran.
Namun, jika beberapa gejala sindrom sarang kosong sudah semakin membuat tidak nyaman dan mengganggu keseharian, orang tua yang mengalaminya perlu segera menemui profesional untuk mendapatkan bantuan.
(SH)
Referensi
Chan, Katherine; Renteria, Yolanda (rev) (2023) Empty Nest Syndrome: How to Cope When the Kids Flee the Coop. Published on https://www.verywellmind.com/. Accessed on August 20, 2025.
Hartanto, Andree, et all (2024) Cultural contexts differentially shape parents’ loneliness and wellbeing during the empty nest period. Communications Psychology; 3; 2; 105. doi: 10.1038/s44271-024-00156-8.
Khatir, Maryam Ahmadi, et al (2024) Empty nest syndrome: A concept analysis. Journal of Education and Health Promotion 13(1):269, DOI: 10.4103/jehp.jehp_874_23.
Stein, Samantha; Lancaster, Vanessa (rev) (2023) How to Cope With an Empty Nest. Published on https://psychologytoday.com/. Accessed on August 20, 2025.
Wooll, Maggie (2022) Empty nest syndrome: How to cope when kids fly the coop. Published on https://www.betterup.com/. Accessed on August 20, 2025.