picsource: pixabay/cuncon

Kapan orang tua harus meminta maaf kepada anak, dan apa yang harus orang tua katakan?

Kebanyakan orang tua mendapati diri mereka bersikeras menyuruh anak mereka meminta maaf kepada saudara kandung, teman, atau orang dewasa. Namun, rasanya sangat canggung bagi orang tua sendiri untuk meminta maaf kepada anak-anaknya, dan banyak dari kita menghindarinya.

Kadang kita membenarkan hal ini dengan mengatakan bahwa permintaan maaf akan mengurangi rasa hormat anak terhadap kita. Tapi yang benar justru sebaliknya. Bukankah kita lebih menghargai orang lain saat mereka menghadapi kesalahan mereka dan mencoba memperbaiki keadaan? Meminta maaf atas perilaku salah kita tidak berarti kita tidak memperbaiki/menegur perilaku anak saat diperlukan. Dia masih akan tetap tahu siapa “bos”nya.

Bagian menyedihkannya adalah kebanyakan kita merasa tidak nyaman untuk meminta maaf. Bukan hanya karena kita harus mengakui bahwa kita melakukan kesalahan, tapi karena itu menimbulkan rasa malu bagi kita karena terpaksa meminta maaf pada anak.

Lalu, Apa yang anak pelajari saat orang tuanya menghindari permintaan maaf?

  • Anak berpikir bahwa meminta maaf berarti telah melakukan sesuatu yang buruk, atau dirinya buruk sehingga ada rasa malu yang melekat.
  • Anak berpikir bahwa tidak masalah merusak hubungan, atau pura-pura tidak menyadarinya, atau mencoba memperbaikinya. Tidak ada bedanya.
  • Anak berpikir bahwa bila saya meminta maaf, saya kehilangan status.
  • Anak berpikir bahwa orang tua saya selalu membuat saya berkata “Maaf” kepada saudara kandung saya, tapi saya tidak akan melakukannya kecuali jika terpaksa melakukannya.

Tidakkah lebih baik mengajarkan anak meminta maaf dengan mencontoh dari kita sebagai orang tuanya? Berikut beberapa hal yang perlu kita ajarkan pada anak:

  • Ajarkan pada anak bahwa kita semua terkadang membuat kesalahan dan kita bisa mencoba untuk membuat segalanya menjadi lebih baik.
  • Ajarkan pada anak bahwa kita semua terkadang menyakiti orang lain. Penting untuk mengetahui kapan kita melakukan itu sehingga kita dapat menebus kesalahan.
  • Ajarkan pada anak bahwa saat kita meminta maaf, orang lain merasa lebih baik tentang kita.
  • Ajarkan pada anak bahwa lebih menunggu sampai siap untuk meminta maaf, karena kemudian kita semua akhirnya merasa lebih baik.

Jadi kapan sebaiknya orang tua meminta maaf kepada anak, dan apa yang harus orang tua katakan?

  1. Orang tua perlu meminta maaf dengan mudah dan sering, termasuk untuk momen “Ups” kecil yang bukan masalah besar. Misalnya, “Ups! Maaf mama/papa memotong pembicaraanmu”. Orang tua perlu meminta maaf demikian kapanpun saat orang tua menampilkan perilaku kurang baik yang kita tak ingin anak menirunya dari kita. Tugas kita juga sebagai orang tua untuk mengelola emosi kita sendiri, tidak peduli apa yang anak kita lakukan.
  2. Jika anak menganggap suatu hal adalah masalah besar, ingatlah bahwa bahwa kita juga harus menganggapnya demikian. Misalnya, “Sudah mama bilang mama akan membelikanmu sebuah buku catatan baru saat pergi ke toko, dan kemudian mama benar-benar lupa, maafkan mama, mama tahu kamu mengandalkan mama untuk pulang dengan membawa buku catatan itu.”
  3. Jelaskan apa yang terjadi. Misalnya, “Kita semua sangat kesal, kamu mulai berteriak pada papa, lalu papa juga mulai berteriak. Papa minta maaf jika membuatmu takut sampai menangis. Saling berteriak bukanlah cara untuk mengerjakan sesuatu dengan seseorang yang kita”
  4. Tolak keinginan untuk menyalahkan. Banyak dari orang tua mulai meminta maaf tetapi kemudian bertahan dan menolak meminta maaf karena menganggap anaklah yang Jangan pernah berpikir “Tentu, saya berteriak, tapi anak saya pantas mendapatkannya!” Kita semua tahu sebagai orang dewasa, tugas kita sebagai orang tua untuk menjadi panutan.
  5. Tidak apa-apa untuk menjelaskannya, tapi jangan merusak permintaan maaf dengan mengajukan dalih untuk perilaku salah kita. Misalnya, “Mama mengalami hari yang sulit, dan mama tidak dapat mengatasi satu hal lagi yang salah, jadi mama berteriak kepadamu”. Setiap orang mungkin saja mengalami hari buruk, tetapi bukan alasan untuk berteriak pada orang lain.
  6. Orang tua semestinya mengambil tanggung jawab atas apapun yang orang tua bisa lakukan dalam situasi tertentu dalam kehidupan sehari-hari anak. Jika orang tua melewatkannya, maka orang tua perlu meminta maaf, misalnya “Maaf papa tidak ada di sini untuk membantu kalian melakukan ini.” Orang tua tidak perlu menyalahkan diri sendiri, tetapi tetap perlu berusaha menebusnya di kesempatan berikutnya untuk membuktikan penyesalannya.
  7. Buatlah rencana untuk memperbaiki kesalahan. Misalnya, “Kita akan mampir ke toko dalam perjalanan ke sekolah besok untuk membeli buku catatan yang mama lupa belikan untukmu kemarin”. Ini adalah bagian penting dari permintaan maaf apa pun. Pikirkan apa yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki kesalahan kita pada anak.
  8. Lakukan pengulangan penjelasan jika diperlukan. Misalnya, “Maaf nak, mama tidak bermaksud membentakmu, yang sebenarnya mau mama maksud adalah….”.
  9. Buat rencana untuk kesempatan berikutnya saat orang tua meminta maaf. Anak kita akan belajar banyak jika kita bertanya kepadanya apa yang dapat kita lakukan secara berbeda di kesempatan berikutnya serta mendiskusikannya tanpa bersikap defensif/bertahan. Kemudian, buat komitmen. “Lain kali papa akan mengingatnya…”. Anak kita perlu tahu bahwa kita akan sungguh-sungguh berusaha untuk menghindari pengulangan perilaku tersebut.
  10. Tanyakan kepada anak apakah mereka siap untuk berdamai. Ini bisa sesederhana “Mama harap kamu memaafkan mama”. Ini membantu anak membuat lompatan emosional untuk melepaskan kebencian dan berhubungan kembali secara emosional. Jangan memaksakan ini. Anak-anak jangan sampai merasa tertekan untuk “memaafkan” sebelum mereka merasa siap. Beberapa orang tua menolak langkah ini karena mereka merasa menyerahkan kekuasaan kepada anak, yang mungkin justru menahan pengampunannya. Tetapi jika anak tersebut tidak siap untuk memaafkan, kita perlu mengetahuinya, jadi kita dapat membantu mereka mengatasi gangguan apa pun yang masih mengganjal.

Perhatikan! tidak perlu ada rasa malu, jangan menyalahkan. Sebaliknya, fokuslah untuk membuat segalanya lebih baik dengan anak kita. Dibutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa kita salah, dan meminta maaf. Tapi itu membuat kita menjadi orang tua yang lebih baik, dan ini menjadikan anak-anak lebih sehat secara sosial, menghargai hubungan, dan dapat bertanggung jawab. Bukankah sudah saatnya kita meninggalkan warisan rasa malu yang melekat pada permintaan maaf?

Artikel diadaptasi dari psychologytoday.com (SH).

 

Baca artikel psikologi lainnya: