Bapak Ricky Setiawan, CEO of Impact Factory sekaligus Passionate Writer, dan Coach & Talent Manager menyampaikan materi Motivation Seminar yang berlangsung dari pukul 9.15 sampai 11.45 WIB. Beliau menyampaikan bahwa terdapat terdapat 4 hal yang harus diperhatikan oleh konselor untuk menjadi coach yang baik bagi anak-anak, sebagai berikut:

  1. Being a good Listener
  • Sebagai pendengar, kita harus menghindari kalimat “Zaman saya dulu…” karena kalimat ini mengesankan kita sebagai orang yang sog tau. Kita sebagai konselor tidak bisa berpura-pura atau berlagak seolah kita tahu segalanya. Perlu diingat juga bahwa anak punya akses untuk mengakses segala ilmu (internet).
  • Anak generasi milenial mencari instant gratification dan customization. Instant gratification maksudnya penghargaan yang didapat dengan instan, anak kurang memiliki daya juang. Misalnya, anak merasa puas/senang dengan banyaknya like/love di postingan media sosial. Sedangkan customization maksudnya anak merusaha mengubah situasi dengan menghilangkan hal-hal yang kurang nyaman. Misalnya, anak menawar “bisakah kalo tidak perlu ini atau itu…?”.
  • Kita sebagai konselor harus berhati-hati menggunakan perbandingan, misalnya “Si A seperti ini, kenapa kamu tidak bisa?”. Hal ini justru cenderung membuat anak merasa kurang spesial.
  1. Apresiasi hal kecil yang berdampak besar
  • Anak – anak tidak peduli berapa banyak kita tahu sampai mereka tahu seberapa kita peduli pada mereka. Oleh karena itu, kita sebagai konselor harus menunjukkan kepdulian kita pada hal – hal kecil yang mereka alami untuk dapat masuk ke hati mereka.
  • Kita harus mengingat hal kecil yang berkaitan dengan anak tersebut, misalnya: ayahnya sedang sakit? Biasa dijemput jam berapa? Ikut ekstrakurikuler apa?
  • Rayakan hal-hal kecil yang berdampak besar bagi anak, misalnya saat memenangkan pertandingan basket, dll.
  1. Start with the “brightspot”
  • Saat menegur/menasihati anak, jangan mulai dari masalah yang besar. Apresiasi terlebih dahulu kelebihan “brigthspot” anak tersebut untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya.
  • Kita sebagai konselor harus sabar membangun area-area yang masih lemah. Membantu anak berkembang/berubah adalah pertandingan lari marathon bukan lari sprint.
  • Hindari kata problem, gunakan kata situation. Situation mencerminkan keadaan yang biasa, dapat dirangkai. Sedangkan problem mencerminkan masalah yang berdampak besar. Anak jadi cenderung merasa sebagai troublemaker.
  1. Together for betther
  • Konselor membutuhkan ecosystem untuk saling mendukung.
  • Egosystem VS  Ecosystem – Egosystem berpusat pda satu orang, hanya dia yang mengambil keputusan. Secangkan ecosystem melibatkan semua orang dalam ecosystem tersebut dalam pengambilan keputusan.
  • Adakan diskusi bersama anak-anak / konseling kelompok.
  • Berkolaborasi dengan guru/konselor lain, berbagi tips, dll.
  • Libatkan orang tua, parents and teachers is partner.

Sesi Diskusi dan Tanya Jawab

Situasi: Anak lemah di bidang akademik, banyak nilai raport yang merah. Anak adalah anak adopsi. Selama masih hidup, ibu angkat kurang menyukai anak ini, tapi ayah angkat diam-diam menuruti semua permintaan anak. Setelah ibu angkat meninggal, ayah semakin memanjakan/menyayangi anak ini. Anak ini bergaul dengan teman-teman yang nakal.

Opini: Karena anak punya hobi main basket, sebaiknya dicoba bicara pada anak di lapangan basket setelah ia latihan. Pertimbangannya, setelah latihan energi untuk agresif sudah terkuras dan mood ruangan mempengaruhi (tempat bicara yang tadinya di ruang BK – formal, dipindah ke lapangan agar terkesan tidak formal).

Situasi: Anak stres, duduk di lapangan. Nilai jelek untuk semua bidang. Bila ditanya mengenai nilai, jawabnnya “Belajar buat apa? Tidak ada gunanya”. Setiap hari ke sekolah diantar ayahnya, padahal sebenarnya tidak mau diantar. Sepanjang perjalanan ayahnya sering mengumpat. Ayahnya dulu pebisnis, tapi bisnisnya sudah hancur. Saat ini ayah dan ibu masih tinggal serumah tapi pisah lantai. Ibu yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan. Setiap orang tua dipanggil ke sekolah, ibu beralasan tidak sempat, sedangkan ayah tidak merespon.

Opini: Menggunakan buddysystem. Buddysystem adalah teman yang merasa senasib dengan anak, tujuannya agar anak tidak merasa sendiri. Bantu anak membangun visi/mimpi bahwa diluar rumah (karena masalahnya dirumah) ada sesuatu yang lebih indah, arahkan ke hobi (dalam kasus ini anak suka pesawat, bisa diajak jalan-jalan ke airport). Ingatkan bahwa kita tidak bisa memilih orang tua, tapi kita bisa memilih cara hidup.

Namun diingat untuk hati-hati memilih buddy, jangan sampai teman yang dipilih punya sifat ember.

Buddysystem efektif untuk situasi tertentu karena guru BK/konselor memiliki limit, tidak bisa masuk ke ranah keluarga. Di sisi lain, buddysystem juga mengembangkan kemampuan konseling anak lain yang dijadikan buddy. Guru BK/konselor dapat mengawasi dua anak sekaligus bila dua anak tersebut sama-sama memiliki situasi.

Situasi: Guru ingin menerapkan konsekuensi ke anak untuk mengubah perilakunya, tetapi orang tuanya selalu membela, “kalau anak tidak mau bagaimana?”. Bagaimana memberi pengertian pada orang tua?

Opini: Panggil orang tua, tunjukkan kredibilitas sebagai guru BK/konselor. Ceritakan kesuksesan menyelesaikan situasi serupa di masa lalu. Dalam kasus ini, guru BK sudah berhasil menyelesaikan situasi serupa yang dialami kedua kakak anak tersebut. Minta orang tua untuk support proses.

(SH)