Umumnya, peristiwa bullying (perisakan) bukan hanya melibatkan korban dan pelaku saja. Biasanya terlibat saksi atau orang yang melihat peristiwa tersebut. Siapa pun bisa melihatnya, termasuk buah hati Anda. Sebagai orangtua, pastinya ingin anak Anda berbuat kebajikan, minimal tidak menjadi salah satu dari pelaku bullyingtersebut. Lalu, apa yang bisa diajarkan pada anak ketika menjadi saksi bullying?

Umumnya, anak yang jadi saksi bullying cenderung diam saja karena…

1. Anak-anak yakin kalau ada orang dewasa lain yang bisa menyelesaikannya

Di sekolah, di tempat les, di tempat bermain, atau di perkumpulan lainnya, umumnya anak-anak yang menjadi saksi bully sering berasumsi bahwa orang dewasa akan bertanggung jawab dan menyelesaikan masalah ini. Dengan demikian, mereka merasa tidak perlu ikut campur dan akhirnya lepas dari tanggung jawab untuk menghentikannya.

2. Tidak akrab dengan korban bully dan takut dijadikan korban bully berikutnya

Selanjutnya, anak mungkin merasa tidak adanya kedekatan dan hubungan pertemanan dengan korban ataupun pelaku bully. Nah, alasan ini kadang dijadikan “tameng” untuk pura-pura tidak tahu, diam saja, atau bahkan tidak peduli. Parahnya lagi, jika anak menengahi peristiwa bully, ia bisa terancam menjadi korban bully selanjutnya oleh pelaku.

3. Mereka tidak tahu bagaimana cara menengahi bully

Terakhir, dari semua alasan di atas, kadang anak tidak tahu apa yang harus mereka lakukan ketika mereka menjadi saksi bully temannya. Pada akhirnya, mereka hanya bisa terdiam dan cenderung hanya menyaksikan saja.

 

Yang harus diajarkan dan dilakukan anak ketika menjadi saksi bullying

Sebagai orangtua yang baik, ada baiknya Anda mengajarkan dan memberitahu apa yang harus anak lakukan ketika melihat temannya membully ataupun menjadi korban bully. Anda atau anak bisa melakukan beberapa hal sederhana berikut ketika menyaksikan peristiwa bully.

Ajari anak untuk tidak bergabung atau ikut tertawa

Terkadang anak-anak secara tidak sadar akan ikut tertawa atau bahkan ikut dalam perbuatan bullying ketika mereka melihat salah satu temannya terintimidasi. Jelaskan pada anak Anda, bahwa tidak baik untuk ikut-ikutan, dan Anda mengharapkan anak untuk tidak bergabung dalam peristiwa bully tersebut.

Abaikan saja si tukang bully

Terkadang pelaku bullying hanya mencari perhatian sesaat. Dan, jika tidak ada orang yang menontonnya, biasanya mereka akan berhenti. Beritahu anak-anak Anda bahwa terkadang yang dibutuhkan hanyalah membantu korban bully untuk menjauh dan meninggalkan si pengganggu.

Beritahu pelaku bully untuk berhenti

Biasanya, jika seorang pelaku bully tidak mendapat dukungan atau sorakan dari keramaian, ia akan menghentikan perbuatannya. Yang jelas, hanya dibutuhkan satu atau dua orang untuk menunjukkan ketidaksetujuan untuk mengakhiri bully tersebut.

Anda bisa memberitahu anak-anak Anda untuk menggunakan metode ini hanya jika mereka merasa aman melakukannya. Jika pengganggu tersebut menimbulkan ancaman fisik, pilihan lain mungkin adalah untuk mencari pertolongan orang dewasa.

Minta bantuan

Beri pemahaman pada anak bahwa meminta bantuan orang dewasa bukan berarti anak otomatis jadi tukang mengadu. Jelaskan pada si kecil, kalau si tukang bully ini begitu “jagoan”, kenapa takut pada orang dewasa seperti guru dan orangtua? Jadi, tegaskan anak bahwa meminta bantuan orang dewasa untuk menengahi peristiwa bullying itu sudah jadi tanggung jawabnya.

Bela dan dukung korban bully

Terkadang cara terbaik untuk menghindari bully adalah menjadi teman korban. Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa dengan memiliki, setidaknya satu atau dua teman dekat, si tukang bully bisa merasa segan atau bahkan kalah jumlah. Beri anak Anda ide dan arahan tentang bagaimana menjadi teman bagi korban bullying. Misalnya dengan berjalan ke kantin, kelas atau pulang bersama.

Sumber: hallosehat.com