[:en]

Cibubur – Pada tanggal 11 November 2017, SDK PENABUR Kota Wisata mengadakan seminar parenting dengan tema “Mendampingi Anak Menggunakan Gawai” dengan pembicara Dr. Theresia Indira Shanti, Psikolog, M.Si, Psikoterapis (Ibu Shanti). Seminar tersebut dihadiri oleh 128 orang yang terdiri dari orang tua siswa kelas 3 sampai dengan kelas 5.

Peserta seminar yang adalah orang tua siswa kelas 3 – 5

Pada seminar tersebut, Ibu Shanti mengingatkan para orang tua bahwa kebutuhan dasar setiap manusia adalah ingin dimiliki, diperhatikan, dihargai, disayang, dan dicintai. Khususnya anak dengan jenjang Sekolah Dasar (SD), karakteristiknya berupa kebutuhan untuk berkarya dan kebutuhan untuk dihargai. Cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah dengan berinteraksi sosial. Pada interaksi sosial yang dilakukan, anak-anak menemukan hal yang mereka sukai dan tidak sukai, salah satunya adalah gawai.

Mereka dapat berinteraksi sosial melalui gawainya, seperti saat berada di sekolah, mereka dapat membicarakan permainan-permainan yang ada di gawai mereka masing-masing. Lalu, apa jadinya jika ada anak yang tidak terlibat dalam pembicaraan dengan anak-anak lainnya karena ia tidak memainkan permainan yang sedang dibicarakan? Anak tersebut akan menarik dirinya dan akan meminta pada orang tuanya untuk membelikannya gawai. Sehingga, tidak heran jika anak-anak akan membutuhkan gawai untuk berinteraksi sosial saat ini.

Peran penting orang tua dalam menanggapi kebutuhan anak-anak yang ingin selalu memegang gawai adalah dengan selalu mendampingi anak-anak pada saat mereka menggunakan gawai. Mendampingi berarti orang tua ikut duduk bersama- sama dengan ikut terlibat dalam setiap permainan yang dimainkan oleh anak-anak, dan membuat peraturan bersama-sama dalam menggunakan gawai. Orang tua mau tidak mau, harus mempelajari permainan yang sedang dimainkan oleh anak- anak mereka. Ibu Shanti memberikan salah satu contoh ketika game Pokemon banyak dimainkan oleh anak-anak. Anak kedua Ibu Shanti, dapat menghabiskan waktu seharian untuk memainkan permainan mencari Pokemon tersebut sehingga melupakan waktu untuk belajar.

Tanya jawab dengan pembicara

Tanya jawab dengan pembicara

Cara yang dilakukan oleh Ibu Shanti dalam mengatasi hal tersebut adalah dengan menawarkan diri untuk bermain permainan Pokemon secara bersama-sama. Tindakan Ibu Shanti ditunjukkan dengan perasaan tertarik dengan permainan mencari Pokemon dan ingin bermain bersama dengan anaknya. Permainan mencari Pokemon dimainkan dari pagi hingga siang hari, kemudian Ibu Shanti bertanya kepada anaknya “Apakah kita akan mencari terus hingga malam hari? Mama harus segera pulang karena Mama masih ada tugas yang harus diselesaikan”. Pada saat itu, reaksi anak Ibu Shanti terkejut dan bertanya “Bukannya Mama senang bermain Pokemon?”. Bu Shanti menjawab “Senang kok, buktinya Mama dari pagi sudah menemanimu mencari Pokemon. Namun, masih ada pekerjaan yang harus mama lakukan. Bukannya kamu juga ada tugas yang harus diselesaikan?”. Pada akhirnya, anak Ibu Shanti bersedia untuk diajak pulang. Dari kejadian tersebut Ibu Shanti mengajarkan kepada anaknya untuk ikut berpikir ketika menggunakan gawai.

Kesimpulannya adalah penggunaan gawai pada anak-anak tidak mungkin dapat kita hindari, namun dari sisi lain kita sebagai orang tua kiranya agar selalu dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar manusia (ingin dimiliki, dicintai, disayangi, diperhatikan, dan dihargai). Sebagai orang tua, kita diharapkan mau duduk bersama- sama, terlibat dalam setiap jenis permainan yang dimainkan oleh anak-anak kita dan memberikan komunikasi yang suportif (empati, menghargai, tulus, tidak menghakimi, memberdayakan, mudah dipahami, dan dapat memegang rahasia) kepada anak-anak kita.

Penulis: Nathania Giovanni (Guru BK SDK PENABUR Kota Wisata)

[:id]

Cibubur – Pada tanggal 11 November 2017, SDK PENABUR Kota Wisata mengadakan seminar parenting dengan tema “Mendampingi Anak Menggunakan Gawai” dengan pembicara Dr. Theresia Indira Shanti, Psikolog, M.Si, Psikoterapis (Ibu Shanti). Seminar tersebut dihadiri oleh 128 orang yang terdiri dari orang tua siswa kelas 3 sampai dengan kelas 5.

Peserta seminar yang adalah orang tua siswa kelas 3 – 5

Pada seminar tersebut, Ibu Shanti mengingatkan para orang tua bahwa kebutuhan dasar setiap manusia adalah ingin dimiliki, diperhatikan, dihargai, disayang, dan dicintai. Khususnya anak dengan jenjang Sekolah Dasar (SD), karakteristiknya berupa kebutuhan untuk berkarya dan kebutuhan untuk dihargai. Cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah dengan berinteraksi sosial. Pada interaksi sosial yang dilakukan, anak-anak menemukan hal yang mereka sukai dan tidak sukai, salah satunya adalah gawai.

Mereka dapat berinteraksi sosial melalui gawainya, seperti saat berada di sekolah, mereka dapat membicarakan permainan-permainan yang ada di gawai mereka masing-masing. Lalu, apa jadinya jika ada anak yang tidak terlibat dalam pembicaraan dengan anak-anak lainnya karena ia tidak memainkan permainan yang sedang dibicarakan? Anak tersebut akan menarik dirinya dan akan meminta pada orang tuanya untuk membelikannya gawai. Sehingga, tidak heran jika anak-anak akan membutuhkan gawai untuk berinteraksi sosial saat ini.

Peran penting orang tua dalam menanggapi kebutuhan anak-anak yang ingin selalu memegang gawai adalah dengan selalu mendampingi anak-anak pada saat mereka menggunakan gawai. Mendampingi berarti orang tua ikut duduk bersama- sama dengan ikut terlibat dalam setiap permainan yang dimainkan oleh anak-anak, dan membuat peraturan bersama-sama dalam menggunakan gawai. Orang tua mau tidak mau, harus mempelajari permainan yang sedang dimainkan oleh anak- anak mereka. Ibu Shanti memberikan salah satu contoh ketika game Pokemon banyak dimainkan oleh anak-anak. Anak kedua Ibu Shanti, dapat menghabiskan waktu seharian untuk memainkan permainan mencari Pokemon tersebut sehingga melupakan waktu untuk belajar.

Tanya jawab dengan pembicara

Tanya jawab dengan pembicara

Cara yang dilakukan oleh Ibu Shanti dalam mengatasi hal tersebut adalah dengan menawarkan diri untuk bermain permainan Pokemon secara bersama-sama. Tindakan Ibu Shanti ditunjukkan dengan perasaan tertarik dengan permainan mencari Pokemon dan ingin bermain bersama dengan anaknya. Permainan mencari Pokemon dimainkan dari pagi hingga siang hari, kemudian Ibu Shanti bertanya kepada anaknya “Apakah kita akan mencari terus hingga malam hari? Mama harus segera pulang karena Mama masih ada tugas yang harus diselesaikan”. Pada saat itu, reaksi anak Ibu Shanti terkejut dan bertanya “Bukannya Mama senang bermain Pokemon?”. Bu Shanti menjawab “Senang kok, buktinya Mama dari pagi sudah menemanimu mencari Pokemon. Namun, masih ada pekerjaan yang harus mama lakukan. Bukannya kamu juga ada tugas yang harus diselesaikan?”. Pada akhirnya, anak Ibu Shanti bersedia untuk diajak pulang. Dari kejadian tersebut Ibu Shanti mengajarkan kepada anaknya untuk ikut berpikir ketika menggunakan gawai.

Kesimpulannya adalah penggunaan gawai pada anak-anak tidak mungkin dapat kita hindari, namun dari sisi lain kita sebagai orang tua kiranya agar selalu dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar manusia (ingin dimiliki, dicintai, disayangi, diperhatikan, dan dihargai). Sebagai orang tua, kita diharapkan mau duduk bersama- sama, terlibat dalam setiap jenis permainan yang dimainkan oleh anak-anak kita dan memberikan komunikasi yang suportif (empati, menghargai, tulus, tidak menghakimi, memberdayakan, mudah dipahami, dan dapat memegang rahasia) kepada anak-anak kita.

Penulis: Nathania Giovanni (Guru BK SDK PENABUR Kota Wisata)[:]