Beberapa Hal yang Perlu Orang Tua Ketahui
Hubungan sosial dengan teman sebaya memainkan peranan penting dalam kehidupan remaja. Bagi mereka, pertemanan adalah sumber semangat, dukungan sosial, hingga identitas diri (Leswidyanti, dkk, 2025).
Pada saat yang bersamaan, para orang tua tentu memahami bahwa bagaimana remaja bergaul kini tidak hanya menentukan kehidupan remaja saat ini, tetapi juga turut membentuk masa depan mereka.
Meskipun pernah menjadi remaja, para orang tua tetap seringkali kesulitan saat mendampingi remaja dalam membangun pertemanan yang sehat. Perbedaan pola pikir hingga situasi dan kondisi yang sudah banyak berubah adalah latar belakangnya.
Dalam hal mendampingi para remaja, yang perlu para orang tua perhatikan adalah bahwa para remaja terkadang mengabaikan red flags dalam pertemanan karena memang tidak tahu bagaimana cara merespon atau memang demi diterima dalam komunitas atau kelompok yang mereka inginkan.
Apa saja red flags tersebut dan apa yang bisa orang tua lakukan?
Apa saja Red Flags dalam Pertemanan Remaja?
Berikut ini beberapa red flags yang perlu diwaspadai oleh orang tua dari para remaja:
1. Konformitas
Salah satu red flag utama dalam pertemanan para remaja adalah adanya konformitas. Contohnya adalah ketika seorang remaja selalu merasa wajib menuruti keinginan teman kelompok tanpa mempertimbangkan nilai atau batas pribadinya.
Penelitian yang dilakukan oleh Wantah, dkk (2024) dan Defoe, et al (2021) membenarkan hal ini. Masa pencarian jati diri yang sedang dialami remaja membuat remaja merasa sangat butuh diterima dalam sebuah kelompok. Oleh karena itu, tak heran bahwa konformitas teman sebaya sangat berkaitan dengan kenakalan remaja.
2. Mengadopsi Nilai Negatif
Jika red flag sebelumnya adalah bahwa remaja tak kuasa menolak keinginan teman agar diterima dalam kelompok, maka yang kedua adalah bukan tak kuasa menolak tetapi memang remaja tidak mengerti bahwa ia mengadopsi hal negatif.
Pada hal-hal tertentu, remaja mungkin belum memiliki referensi yang matang untuk membedakan hal baik dan buruk. Akibatnya, ia mempelajari hal tersebut dari teman sebaya yang sayangnya justru menularkan hal negatif.
Contoh paling umum adalah bagaimana para remaja banyak mengadopsi bad word, menggunakannya dalam situasi sehari-hari, tanpa mengetahui makna sebenarnya dan bagaimana potensi dampaknya.
3. Konflik Sosial
Red flag berikutnya adalah konflik sosial berkepanjangan diantara para remaja dapat berdampak buruk dan mempengaruhi beberapa aspek kehidupan remaja sekaligus.
Misalnya, ketika seorang remaja yang sering terlibat pertengkaran dengan teman sebayanya. Ia dapat mengalami tekanan emosional yang membuatnya merasa tidak aman dalam hubungan sosial.
Hal ini, kemudian menjadi hambatan untuk perkembangan sosialnya. Bahkan tak sampai disitu, konflik sosial diantara remaja juga memicu penurunan prestasi akademik (Lating, 2016).
4. Isolasi dari Relasi Positif Lainnya
Para remaja suka membuat kelompok terbatas/eksklusif (biasa disebut dengan “geng”) yang terkadang justru membuat mereka terisolasi dari kesempatan membangun relasi positif lainnya. Misalnya, remaja hanya bergaul dengan teman dalam kelompoknya dan menjaga jarak atau enggan bergaul dengan teman-teman lainnya.
Pembatasan atau isolasi ini mungkin bertujuan untuk memperkuat relasi dalam sebuah kelompok (eksklusif). Namun, kenyataannya juga membuat remaja kehilangan kesempatan untuk mengeksplorasi hal positif lainnya.
Apa yang dapat Orang Tua Lakukan?
1. Menjadi Model dalam Relasi yang Sehat
Kebanyakan dari kita belajar dengan mencontoh model terdekat yang tersedia. Demikian juga para remaja mempelajari pertemanan dengan mencontoh dari orang tua mereka. Maka, jadilah model untuk mengajarkan pada remaja seperti apa relasi sosial yang sehat itu.
Beberapa hal penting yang perlu orang tua contohkan pada anak remaja adalah sebagai berikut:
- * Mendukung dalam hal positif, misalnya ketika teman sedang mempertimbangkan untuk kembali melanjutkan pendidikan tinggi.
- * Menjaga kepercayaan, misalnya selalu menepati janji bertemu dengan datang tepat waktu.
- * Memberikan dukungan emosional, misalnya ketika teman sedang mengalami hal yang membuatnya sedih atau berduka.
2. Buka Komunikasi
Ajak remaja untuk menceritakan tentang teman-teman mereka. Orang tua perlu tahu siapa saja teman-teman anak remajanya, apa yang membuat mereka berteman dekat (misalnya hobi yang sama), dimana mereka suka menghabiskan waktu bersama, dan sebagainya.
Hal ini tidak hanya penting bagi orang tua untuk memantau dengan siapa anak remaja bergaul, tetapi juga untuk mengetahui kondisi dan kualitas hubungan mereka.
Dengan demikian, orang tua dapat segera mengambil tindakan jika mendapati kondisi pertemanan remaja sedang kurang baik; misalnya dengan memberikan nasihat sesuai dengan situasi mereka.
3. Informasi tentang Pertemanan yang Sehat
Ajak remaja untuk mendiskusikan tentang seperti apa pertemanan yang sehat dan tidak sehat. Diskusi ini dapat meyakinkan orang tua bahwa anak remajanya memiliki penilaian yang sama tentang pertemanan dan bagaimana menjauh dari pertemanan yang toxic atau menunjukkan banyak red flags.
Sedangkan dari sisi remaja, pendampingan dari orang tua akan membuat mereka lebih merasa aman dari dalam menjalani hubungan sosial.
4. Dorong Remaja Membangun Pertemanan yang Positif
Orang tua dapat melakukan intervensi tidak langsung dengan mendorong remaja membentuk pertemanan yang positif. Misalnya, dengan memfasilitasi remaja untuk bergabung dalam klub olahraga.
Cara ini akan membukakan kesempatan bagi remaja untuk menjalin relasi sosial yang semakin luas sehingga remaja tidak terisolasi hanya dalam lingkup sosial yang kecil; seperti misalnya remaja yang hanya bergaul dengan teman-teman sekelasnya di sekolah.
Penutup
Hubungan pertemanan adalah bagian penting dalam kehidupan remaja. Oleh karena itu, orang tua punya peran penting untuk mendampingi agar para remaja mampu mengenal dan menjauhi pertemanan yang menunjukkan banyak red flags.
(SH)
Referensi:
Defoe, Ivy, et al (2021) The Co-development of Friends’ Delinquency with Adolescents’ Delinquency and Short-term Mindsets: The Moderating Role of Co-Offending. Springer: Journal Youth Adolescence, 50(8):1601–1615. doi: 10.1007/s10964-021-01417-z.
Lating, Ainun Diana (2016) Konflik Sosial Remaja Akhir (Studi Psikologi Perkembangan Masyarakat Negeri Mamala dan Morella Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah). Jurnal Fikratuna Volume 8 Nomor 1, h. 23-35.
Leswidyanti, Juwita, dkk (2025) Mencari Jati Diri: Peran Peer Group dalam Membentuk Identitas Remaja. SABANA (Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara). DOI: 10.55123/sabana.v4i1.4999.
Wantah, Mario, dkk (2024) Pengaruh Konformitas Terhadap Kenakalan Remaja. Afeksi: Jurnal Psikologi, 2961-8762,3 (4): 221–226.
Baca artikel lainnya…
Jejak Pola Asuh: dari Didikan dulu ke Cara Kita Mendidik Kini
Gangguan Bahasa Ekspresif pada Anak Sekolah Dasar dan Penanganannya
Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Sekolah
Fungsi Eksekutif pada Anak dan Kaitannya dengan Kesiapan Belajar

