Bayangkan seorang anak kecil yang duduk di sudut ruangan, matanya menatap kosong ke lantai, bahunya sedikit membungkuk. Ia menunggu seseorang datang, memeluknya, dan berkata, “Kamu aman. Aku di sini untukmu.” Anak itu mengilustrasikan diri kita sendiri versi masa kanak-kanak, yang pernah mengalami kekecewaan, penolakan, rasa takut, atau mungkin tidak mendapatkan dukungan yang kita butuhkan saat itu.

Di dunia psikologi, kita menyebutnya sebagai inner child, yaitu representasi psikologis dari bagian diri kita yang menyimpan pengalaman, emosi, kebutuhan, dan keyakinan yang terbentuk di masa kanak-kanak (Bradshaw, 1990).

Inner child mencakup memori positif (rasa ingin tahu, bermain, spontanitas) maupun luka emosional akibat pengalaman kurang aman atau traumatis di masa kecil. Inner child bukan sekadar konsep abstrak namun hidup dalam cara kita merespons dunia, dalam pola hubungan kita, bahkan dalam suara hati/pikiran yang kadang mengkritik tanpa henti.

John Bradshaw (1990), salah satu tokoh yang mempopulerkan inner child work, melihat bahwa luka masa kecil yang tidak disembuhkan dapat memengaruhi hampir semua aspek hidup, dari harga diri, pekerjaan, hingga relasi sosial. Wujud nyatanya bisa berupa reaksi emosional berlebihan, seperti marah, cemas, sedih mendalam atau kritik diri yang terbentuk sejak kecil yang terus mempertanyakan nilai diri.

Dampak Sosial dari Inner Child yang tidak Pulih

Lebih luas lagi, dampak dari inner child yang tidak dipulihkan akan berpengaruh pada relasi sosial, seperti:

1. Mengulang pola hubungan yang destruktif

Misalnya selalu tertarik pada pasangan yang emosionalnya cenderung tidak stabil atau sulit mempercayai orang lain.

2. Menjadi People-pleasing 

Demi tujuan agar diterima oleh orang lain, seseorang bisa mengorbankan kebutuhan sendiri.

3. Menghindari suatu hubungan yang dekat

Sebaliknya, untuk melindungi diri dari luka masa kecil, seseorang bisa terus menjaga jarak dari orang lain dan menghindari relasi yang dekat.

4. Takut menetapkan batas

Ketika kebutuhan seseorang cenderung diabaikan waktu kanak-kanak, maka ketika dewasa, orang tersebut dapat tumbuh sebagai orang yang sulit berkata “tidak” kepada permintaan orang lain. Orang tersebut cenderung memprioritaskan kebutuhan orang lain di atas kepentingan dirinya.

Memulihkan Inner Child yang Terluka

Cara yang popular untuk memulihkan luka inner child kita adalah dengan reparenting. Reparenting adalah proses di mana kita belajar menjadi “orang tua” bagi diri kita sendiri, yang memberikan cinta, perlindungan, bimbingan, dan disiplin yang mungkin tidak selalu kita terima di masa kecil (Risework Therapy, 2023).

Menurut Sweet Institute (2024), terdapat empat pilar inti dalam reparenting diri sendiri yaitu:

1. Self-Love

Menerima diri apa adanya, tanpa syarat. Ketika terjadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan, cari tahu apa yang diri kita butuhkan dan rasakan. Buat jurnal dan berikan apresiasi diri seperti: “Kamu sedang melakukan yang terbaik,” atau “Perasaanmu valid dan penting.”

2. Protection

Cari atau buat lingkungan yang aman dan suportif. Selain itu, buat batasan emosional dan jaga kesehatan mental diri. Belajar untuk berani berkata “tidak” terhadap situasi atau orang yang merusak kesejahteraan diri, dan berkata “ya” terhadap hal-hal yang diinginkan dalam hidup.

3. Guidance 

Menjadi mentor bagi diri sendiri melalui pengaturan tujuan, pembelajaran, dan keputusan yang sehat dengan berfokus pada tujuan dan nilai diri yang dianut.

4. Discipline 

Membangun rutinitas dan kebiasaan yang konsisten untuk stabilitas mental dan rasa aman.

 

Reparenting memberi kita kesempatan kedua bagi kita. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa memenuhi kebutuhan emosional kita sekarang sehingga luka lama perlahan sembuh.

Kadang, membuka pintu ke masa lalu membuat kita bertemu rasa marah atau sedih yang lama terkubur. Wajar bila ada bagian dari diri yang menolak. Mengabaikan atau menghindari sisi diri yang belum pulih terkadang memberi rasa aman. Namun, rasa aman tersebut bersifat semu dan sementara.

Dengan belajar menerima inner child kita dan berusaha memulihkannya, kita akan bisa menjadi manusia yang lebih utuh.

“Reclaiming our inner child and to reparent is to acknowledge our wounding, find the source memories, and give ourselves the nurturing we needed” -Aimee Pugao-

 

Penulis: Indra Tanuwijaya, M.Psi, Psikolog (Psikolog Jenjang SMP-SLTA BPK PENABUR Jakarta)

Daftar Pustaka dan Referensi:

Alyse Breathes. (2023). How to Reparent Your Inner Child. Diakses tanggal 13 Agustus 2025 dari alysebreathes.com

Bradshaw, J. (1990). Homecoming: Reclaiming and Championing Your Inner Child. New York: Bantam Books.

Risework Therapy. (2023). Reparenting Your Inner Child: A Journey to Healing and Growth. Diakses tanggal 13 Agustus 2025 dari riseworktherapy.com

Sweet Institute. (2024). Reparenting the Inner Child: A Journey to Healing and Self-Compassion. Diakses tanggal 13 Agustus 2025 dari sweetinstitute.com

Verywell Mind. (2023). Inner Child Work: How Your Past Shapes Your Present. Diakses tanggal 13 Agustus 2025 dari verywellmind.com

Baca artikel lainnya…

Red Flags dalam Pertemanan Remaja

Jejak Pola Asuh: dari Didikan dulu ke Cara Kita Mendidik Kini

Gangguan Bahasa Ekspresif pada Anak Sekolah Dasar dan Penanganannya

Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Sekolah