Masa remaja adalah masa eksplorasi. Di usia ini, perasaan suka, tertarik, atau “jatuh cinta” pada teman sebaya mulai muncul dengan kuat. Secara biologis dan psikologis, ini wajar. Otak remaja sedang aktif membentuk identitas diri dan keterampilan berhubungan dengan orang lain (Collins, 2003). Terlebih lagi ketika di sekolah, perasaan tertarik dan pertemuan setiap hari dengan teman semakin membuat remaja yang sedang “jatuh cinta” semakin menyukai satu sama lain.

Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan (t.th) mengartikan pacaran sebagai hubungan dengan teman lawan jenis yang tetap dan berdasarkan cinta kasih. Sebagai remaja, pacaran merupakan cara untuk mengenal lawan jenis dengan lebih dalam, mencoba membangun kedekatan emosional dan menetapkan batasan dalam hubungan.

Tidak sedikit hubungan berpacaran yang dimulai pada masa remaja terus berjalan sampai ke jenjang pernikahan. Mereka bisa belajar untuk saling mengenal satu sama lain dan menunjukkan kedewasaan dalam hubungan.

Pacaran yang sehat adalah ketika masing-masing pihak bisa saling menghargai menghargai batasan masing-masing dalam suatu hubungan. Hal ini sangat penting untuk melindungi satu sama lain. Masing-masing orang bisa menerima kondisi satu sama lain apa adanya, bukan ada apanya. Semua ciri baik tersebut terfokus pada tujuan kedua individu yang sama dalam menjalin hubungan yang dalam.

Penjelasan pacaran yang sehat di atas adalah sesuatu hal yang ideal. Faktanya, secara biologis, bagian otak yang mengatur pertimbangan, kontrol diri, dan konsekuensi yaitu prefrontal cortex pada remaja masih berkembang hingga sekitar usia 25 tahun (Santrock, 2018). Artinya, keputusan yang diambil remaja masih lebih banyak dipengaruhi emosi daripada logika yang matang. Alhasil, banyak kasus yang ditemukan sebagai dampak pacaran diantara remaja di sekolah adalah sebagai berikut:

1. Gangguan fokus belajar

Fokus belajar remaja terganggu karena waktu dan energi mereka lebih banyak terpakai ke hubungan berpacaran dibandingkan dengan akademik.

2. ‘Drama’ emosional

Rasa cemburu, putus cinta, atau gosip di sekolah bisa memengaruhi emosi pasangan remaja yang berpacaran. Dengan alasan melindungi hubungan atau sayang dengan pasangan yang masih cenderung egois, sangat memungkinkan munculnya ‘drama’ emosional di sekolah.

3. Batas fisik yang kabur

Tanpa adanya edukasi seks dan batasan diri yang jelas, perilaku berisiko dalam berpacaran sangat bisa terjadi. Pasangan dapat dengan berani menunjukkan perilaku berpacaran dengan banyak kontak fisik tanpa sadar bahwa perilaku tersebut berbahaya, tidak hanya untuk pasangannya, namun juga untuk dirinya sendiri.

4. Hubungan yang tidak sehat

Banyaknya kasus remaja berpacaran di mana mereka sangat menuruti pasangannya dan takut pasangannya tersebut marah. Selain itu, terdapat pula jenis berpacaran di mana hubungan mereka menjadi sangat eksklusif dan tidak mau berbaur dengan teman-temannya yang lain.

Pacaran di sekolah bukan sekadar menjawab pertanyaan boleh atau tidak, tetapi lebih kepada kesiapan dan tanggung jawab remaja sebagai individu. Hubungan pacaran saat remaja bisa menjadi pengalaman belajar yang berharga jika dijalani dengan sehat, saling menghormati, dan tetap fokus pada tujuan utama di sekolah yaitu belajar, bertumbuh, dan mempersiapkan masa depan.

Pada akhirnya, sekolah adalah tempat belajar dan belajar bukan cuma tentang matematika, biologi atau mata pelajaran lainnya, namun juga tentang bagaimana mencintai dan menghargai diri sendiri dan orang lain.

 

Penulis: Indra Tanuwijaya, M.Psi, Psikolog (Psikolog Jenjang SMP-SLTA BPK PENABUR Jakarta)

Daftar Pustaka dan Referensi:

Santrock, J.W. (2018). Adolescence (17th ed.). McGraw-Hill Education.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (t.th.). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Diakses pada 14 Agustus 2025 dari https://kbbi.kemdikbud.go.id

Collins, W.A. (2003). More than myth: The developmental significance of romantic relationships during adolescence. Journal of Research on Adolescence, 13(1), 1–24.

Furman, W., & Shaffer, L. (2003). The role of romantic relationships in adolescent development. New Directions for Child and Adolescent Development, 2003(101), 3-22.

Lerner, R.M., & Steinberg, L. (2009). Handbook of Adolescent Psychology. Wiley.

 

Baca artikel lainnya…

Manfaat Kegiatan di Luar Rumah Selain Sekolah…

Reparenting Our Inner Child

Red Flags dalam Pertemanan Remaja

Jejak Pola Asuh: dari Didikan dulu ke Cara Kita Mendidik Kini