Unsplash/Daiga Ellaby

Saya sedang berjalan-jalan di sebuah supermarket untuk berbelanja ketika saya melihat seorang Kasir berbicara dengan seorang anak laki-laki yang berusia tak lebih dari 5 atau 6 tahun. Kasir itu berkata, “Saya minta maaf, tetapi kamu tidak punya cukup uang untuk membeli boneka ini.” Kemudian bocah kecil itu berpaling kepada saya dan bertanya, “Paman, apakah Anda yakin saya tidak punya cukup uang?” katanya sambil menunjukkan semua uangnya pada saya.;

Saya menghitung uangnya dan menjawab, “Kamu tahu nak, bahwa kamu tidak punya cukup uang untuk membeli boneka itu, sayang sekali.” Anak kecil itu masih memegang boneka di tangannya. Akhirnya, saya berjalan ke arahnya dan saya bertanya kepada siapa dia ingin memberikan boneka itu. “Itu boneka yang sangat disukai kakak saya dan sangat diinginkannya. Saya ingin memberikanya sebagai hadiah untuk Ulang tahunnya. Saya harus memberikan boneka itu kepada ibu saya sehingga dia bisa memberikannya kepada kakak perempuan saya itu ketika dia pergi ke sana. ”Mata bocah itu sangat sedih ketika mengatakannya.

“Kakak perempuan saya telah pergi bersama Tuhan. Ayah berkata bahwa Ibu akan segera melihat Tuhan, jadi saya pikir dia bisa membawa boneka itu untuk memberikannya kepada kakak perempuan saya”. Jantung saya hampir berhenti berdetak rasanya. Anak lelaki kecil itu menatap saya dan berkata, “Saya memberi tahu ayah agar memberi tahu ibu untuk tidak pergi. Saya perlu dia menunggu sampai saya kembali dari toko ini. ”Lalu dia menunjukkan foto yang sangat bagus tentang dia dan kakak perempuanya yang sedang tertawa. Dia kemudian mengatakan kepada saya, “Saya ingin ibu mengambil foto saya dengannya sehingga kakak saya tidak akan melupakan saya, saya mencintai ibu saya dan saya berharap dia tidak harus meninggalkan saya, tetapi ayah mengatakan bahwa dia harus pergi bersama dengan saudara perempuan saya.”

Kemudian dia melihat lagi boneka itu dengan mata sedih tapi juga sangat tenang. Saya segera meraih dompet saya dan berkata kepada bocah lelaki itu. “Ayo kita periksa lagi, kalau-kalau kamu punya cukup uang untuk boneka!” Dia berkata, “Oke, saya harap saya punya cukup uang.” Saya menambahkan beberapa uang saya untuknya dan kami mulai menghitung uang itu. Cukup untuk boneka dan bahkan tersisa uang cadangan.

Bocah kecil itu berkata, “Terima kasih Tuhan karena telah memberi saya cukup uang!” Kemudian dia melihat saya dan menambahkan, “Saya berdoa tadi malam sebelum saya pergi tidur agar Tuhan memastikan saya punya cukup uang untuk membeli boneka ini, sehingga ibu bisa memberikannya kepada kakak perempuan saya. Dia mendengar doaku! Saya juga ingin punya cukup uang untuk membeli mawar putih untuk ibu saya, tetapi saya tidak berani meminta terlalu banyak kepada Tuhan. Tetapi Dia memberi saya cukup untuk membeli boneka dan mawar putih. Ibuku suka mawar putih.”

Saya menyelesaikan belanja saya dalam keadaan yang sama sekali berbeda dari ketika saya mulai. Saya tidak bisa menyingkirkan bocah kecil itu dari pikiran saya. Kemudian saya ingat sebuah artikel koran lokal dua hari yang lalu, yang menyebutkan seorang lelaki mabuk dengan sebuah truk yang menabrak mobil yang ditumpangi oleh seorang wanita muda dan seorang gadis kecil. Gadis kecil itu meninggal seketika, dan ibunya ditinggalkan dalam kondisi kritis.

Keluarga wanita muda itu harus memutuskan apakah akan menarik steker pada mesin penopang hidup, karena wanita muda itu tidak akan bisa pulih dari koma. Apakah ini keluarga bocah lelaki kecil itu? Dua hari setelah pertemuan dengan bocah lelaki kecil ini, saya membaca di koran bahwa wanita muda itu telah meninggal. Saya tidak bisa menahan diri. Saya membeli seikat bunga mawar putih dan saya pergi ke rumah duka di mana tubuh wanita muda itu disemayamkan bagi orang-orang untuk melihat dan membuat harapan terakhir sebelum penguburannya. Bocah lelaki itu ada di sana, di samping peti mati ibunya, memegang mawar putih yang indah di tangannya dengan foto dua anak kecil itu dan boneka itu diletakkan di atas dadanya. Saya meninggalkan tempat itu, dengan mata berkaca-kaca, merasa bahwa hidup saya telah berubah selamanya …

Cinta yang dimiliki si bocah untuk ibunya dan kakak perempuannya masih sampai hari ini, sulit dibayangkan. Dan dalam hitungan detik, pengemudi mabuk telah mengambil semua ini darinya …

Hormatilah hidup, Ikuti, dan taatilah aturan. Jangan membuat orang lain membayar dan menanggung kesalahan Anda. Jangan membuat kesalahan yang merugikan orang lain sesuatu yang tidak pernah bisa diganti. Selalu memiliki tangan yang memberikan dan berikan bantuan Anda kepada mereka yang membutuhkan dan dalam duka.

Sumber: www.moralstories.org (dengan penyesuaian)

Baca cerita inspiratif lainnya: