Barangkali, terluka secara mental dialami oleh sebagian besar dari kita. Luka-luka relasional ini timbul seiring dengan hubungan orang tua – anak ataupun hubungan saudara kandung yang kurang ideal. Sayangnya, banyak juga yang tak sampai benar-benar pulih ketika tumbuh dewasa.

Dalam kondisi yang masih terluka atau trauma, kita berhadapan dengan kehidupan sehari-hari. Tuntutan sosial sebagai orang dewasa seringkali tak memberi ruang bagi inner child yang terluka untuk memulihkan diri. Wright (2022) menyebut situasi ini sebagai berfungsi berlebihan di tengah kondisi disfungsi. Kita juga menjadi lebih sulit untuk bahagia, karena trauma-trauma tersebut membuat kita sulit memandang dan menyikapi dunia secara positif.

Memfasilitasi diri sendiri untuk pulih dan menjadi pribadi yang lebih bahagia dapat kita lakukan dengan self-reparenting. Artikel ini akan secara ringkas menjelaskan tentang hal tersebut, lengkap dengan langkah praktis untuk mempraktikannya.

Apa itu Self-Reparenting dan Kapan Membutuhkannya?

Self-reparenting adalah pengasuhan ulang oleh dan untuk diri sendiri. Tujuan tindakan ini adalah memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikis yang sebelumnya tidak terpenuhi. Kita kemudian dapat berangsur pulih secara mental dengan pemenuhan ini.

Kebutuhan kita akan tindakan self-reparenting tercermin kondisi mental yang dapat kita evaluasi secara mandiri. Tanda-tandanya antara lain adalah mudah marah atau sangat sensitif terhadap topik tertentu. Selain itu, perasaan rendah diri atau tidak berharga, serta terlalu perfeksionis juga adalah tanda adanya luka mental yang belum pulih.

Perlakuan buruk dari orang lain yang kita terima di masa lalu atau masa kecil juga terkadang justru terproyeksi dalam perilaku kita kepada orang lain saat ini. Hal ini menunjukkan adanya anak kecil (inner child) dalam diri kita yang masih terluka. Kita belum berdamai dengan kejadian-kejadian traumatis tersebut.

Menjadi Pribadi yang Lebih Bahagia dengan Self-Reparenting

Bagaimana mengasuh ulang diri sendiri agar lebih bahagia? Berikut ini beberapa langkah praktis untuk dapat menerapkannya pada diri sendiri:

1. Membuat Gambaran tentang Orang Tua yang Baik

Kristenson (2022) mengatakan bahwa langkah paling awal dalam self-parenting adalah membuat daftar gambaran tentang orang tua yang baik. Daftar ini akan menjadi acuan bagi diri sendiri. Kita menginginkan diri kita untuk menjadi orang tua yang seperti apa.

Daftar ini terdiri dari kualitas positif dan negatif. Dalam artikel tersebut, Kristenson (2022) memberi beberapa contoh sebagai rujukan. Kualitas positif antara lain adalah pendengar yang baik, sabar, penuh empati, suportif, disiplin, dan beberapa kualitas lainnnya. Sedangkan contoh kualitas negatif adalah berperilaku kasar, suka mengambil keuntungan dari orang lain, dan mudah marah.

Kualitas positif akan kita bentuk pada diri sendiri. Sedangkan kualitas negatif adalah watak yang ingin dihindari. Kita dapat membuat versi milik kita sendiri.

2. Mengembangkan Keterampilan

Setelah membuat gambaran tentang ingin menjadi orang tua yang seperti apa untuk mengasuh ulang diri sendiri, Kristenson (2022) juga mendorong agar orang-orang meningkatkan keterampilan. Sebab, membuat daftar saja tidak cukup untuk menciptakan diri dengan kualitas-kualitas tersebut.

Hal yang dapat dilakukan antara lain adalah banyak membaca tentang topik memaafkan (forgiveness), melepaskan (let it go), dan belajar menerima bahwa kita memang terkadang tidak mendapatkan apa yang kita harapkan. Selain itu, terlibat dalam pelayanan pada anak seperti mengajar sekolah minggu juga akan melatih kepekaan untuk menyikapi sifat-sifat seorang anak.

Ilmu-ilmu tersebut akan menjadi bekal baik untuk mengasuh diri sendiri ketika sifat inner child muncul kepermukaan dan membuat kita berada dalam kondisi yang tidak baik. Misalnya, sifat mudah marah atau terlalu perfeksionis yang membuat stres diri sendiri.

3. Membuat Praktik Kecil

Langkah selanjutnya adalah mulai melakukan hal-hal kecil sebagai wujud pengasuhan ulang pada diri sendiri. Wright (2022) memberi contoh tentang pengalamannya sendiri. Ia menceritakan bahwa ia sebenarnya sangat takut naik kereta karena memiliki pengalaman buruk di masa lalu. Namun, dia memaksakan diri karena anaknya sangat menyukai naik kereta.

Dalam artikel yang ditulisnya tersebut, ia menjelaskan bahwa tidak memaksakan diri untuk berkorban bagi orang lain adalah salah satu bentuk self-parenting. Tentang hal ini, Archer, et al (2013) juga menekankan bahwa kita perlu mengutamakan cinta pada diri sendiri.

Pemenuhan akan cinta pada diri sendiri akan membuat kita siap untuk mencintai orang lain. Apabila kebutuhan cinta pada diri sendiri terus terabaikan, maka kita akan merasa bahwa mencintai orang lain adalah pengorbanan yang menyakitkan.

Kembali pada contoh yang diutarakan oleh Wright (2022), ia akhirnya memberi ruang pada emosinya sendiri dengan membatalkan rencana naik kereta. Walaupun sebagai orang tua ia juga perlu memberi pengertian yang bijaksana pada anak ketika membatalkan janji ini. Sebab jika tidak, hal ini juga dapat memicu luka batin bagi anak.

Pemberian ruang bukan berarti memupuk rasa takut tanpa berusaha menyelesaikannya. Kita tetap memiliki tugas untuk perlahan memulihkan diri. Hanya, tidak perlu terlalu memaksakan dengan alasan untuk kepentingan atau kebahagiaan orang lain.

Praktik-praktik kecil ini ibarat orang tua yang memiliki rasa empati pada anak kecilnya dan berusaha untuk memotivasinya secara perlahan. Ini akan mendorong kita untuk memiliki keberhargaan diri. Bahwa diri ini dimengerti dan dicintai.

4. Menemukan Hal yang Membahagiakan Diri

Menemukan hal yang membagiakan diri adalah juga cara memperbaiki diri dengan self-parenting. Seperti anak-anak yang sangat mudah menemukan kebahagiaan dari hal-hal kecil seperti melihat ekor anjing yang berkibas atau kupu-kupu yang hinggap di bunga.

Trauma atau luka batin mungkin telah membuat kita sulit untuk menemukan kebahagiaan dari hal sepele sehari-hari. Maka, cobalah untuk menemukan dan melakukan hal sepele yang sebenarnya kita sukai itu.

Misalnya, menghidup aroma teh hangat, melihat bunga-bunga bermekaran, dan sebagainya. Mungkin selama ini kita merasa meminimalkan hal-hal tersebut karena merasa perlu melakukan kegiatan lain yang lebih penting. Maka, ini saatnya untuk memulai lagi dan mengutamakan waktu untuk kegiatan sepele yang menyenangkan tersebut.

Mari Berbahagia!

Demikianlah uraian singkat mengenai self-reparenting dan cara mempraktikkannya. Semoga setiap kita dapat pulih dari luka batin akibat relasi yang tidak ideal dan menjadi lebih bahagia.

(SH)

Referensi:

Archer, Caroline. et al (2013) Reparenting the Child Who Hurts: A Guide to Healing Developmental Trauma and Attachment. London: Jessica Kingsley Publishers. eISBN 978 0 85700 568 7.

Kirnandita, Patresia (2021) Si Kecil yang Terluka dalam Tubuh Orang Dewasa. Jakarta: EA Books. ISBN 978-623-96940-8-1.

Kristenson, Sarah (2022) How to Reparent Yourself: A 7-Step Guide. Published at https://www.happierhuman.com/. Accessed on March 9, 2023.

Wright, Annie (2022) Re-parenting Yourself by Not Pushing Yourself. Published at https://www.psychologytoday.com/. Accessed on March 9, 2023.

Baca artikel lainnya…

Ikuti akun instagram kami untuk mendapatkan info-info terkini. Klik disini!