Penting bagi orang tua untuk memahami bahwa anak-anak juga dapat mengalami stres, bahkan di usia sekolah mereka. Meskipun mungkin terlihat bahwa hidup anak-anak bebas dari beban dan tanggung jawab seperti yang orang dewasa rasakan.

Nyatanya, anak-anak dapat merasakan tekanan dari berbagai sumber, mulai dari tuntutan akademis, hingga masalah sosial di lingkungan sekolah maupun komunitas yang anak-anak ikuti. Tak hanya itu, Davis, et al (2010) mencatat bahwa kondisi sosial ekonomi keluarga yang tidak stabil turut menyumbang faktor risiko stres pada anak.

Mengenali tanda-tanda stres pada anak adalah langkah pertama yang penting dalam memberikan dukungan yang tepat. Kemampuan anak dalam mengatasi stres akan sangat dibutuhkan dalam kehidupan mandiri anak kedepannya.

Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa tanda-tanda yang perlu diperhatikan oleh orang tua sebagai panduan ringkas untuk mengidentifikasi stres pada anak.

Tanda-tanda Stres pada Anak Usia Sekolah

Berikut ini adalah 5 tanda paling umum yang akan ditunjukkan oleh anak-anak yang sedang mengalami stres:

1. Perubahan Mood yang Signifikan

Salah satu tanda utama bahwa anak Anda mungkin mengalami stres adalah perubahan drastis dalam mood mereka (Wisner, 2023). Anak yang biasanya ceria dan ramah tiba-tiba menjadi murung atau marah tanpa alasan yang jelas.

Anak mungkin menunjukkan tanda-tanda depresi atau kecemasan, seperti menarik diri dari interaksi sosial dan lebih mudah menangis. Tanda ini semakin nyata ketika anak menolak untuk berangkat ke sekolah dan menghabiskan lebih banyak waktu di kamarnya.

2. Perubahan dalam Pola Makan atau Tidur

Stres juga dapat memengaruhi pola makan dan tidur anak-anak (Sissons, 2023). Beberapa anak mungkin kehilangan nafsu makan atau mengalami kesulitan tidur. Sementara yang lain, mungkin anak yang mengalami stres dapat mencari kenyamanan dalam makanan atau tidur yang berlebihan.

Demikian orang tua perlu waspada pada perubahan bertolak belakang ini. Contohnya misalnya jika anak nampak kesulitan tidur dana tau sering terbangun karena mimpi buruk (Wisner, 2023). Sebaliknya, tanda stres juga dapat muncul berupa tidur yang berlebihan.

Contoh lain adalah jika anak menolak makanan favoritnya atau justru memiliki nafsu makan yang menggila. Artinya, ada sesuatu yang sedang membuat anak merasa tidak nyaman.

3. Penurunan Prestasi Akademis

Tanda selanjutnya adalah penurunan prestasi akademik anak. Stres dapat mengganggu kemampuan anak untuk berkonsentrasi dan belajar dengan efektif di sekolah. Jika orang tua melihat penurunan tajam dalam prestasi akademis anak tanpa alasan yang jelas, ini bisa menjadi tanda bahwa mereka mengalami stres.

Tanda lain yang berkaitan adalah jika anak menunjukkan penurunan minat pada mata pelajaran favoritnya. Misalnya, jika anak sangat suka pelajaran Bahasa Inggris, namun suatu ketika anak justru enggan atau bahkan menolak untuk belajar Bahasa Inggris.

4. Gejala Fisik yang Tidak Biasa

Stres juga dapat termanifestasi dalam bentuk gejala fisik, seperti sakit kepala, perut kembung, atau mual. Anak-anak mungkin tidak menyadari bahwa gejala-gejala ini terkait dengan stres, jadi penting bagi orang tua untuk memperhatikan gejala fisik yang tidak biasa pada anak.

Gejala fisik dapat muncul atau semakin parah pada waktu atau situasi yang memicu stres anak. Misalnya jika anak terus mengeluhkan perutnya yang mual setiap malam ketika esok paginya adalah mata pelajaran olah raga. Dalam kondisi ini, orang tau dapat mencari tahu secara spesifik apa yang membuat situasi ini menjadi sumber stress anak.

5. Perubahan dalam Interaksi Sosial

Anak-anak yang mengalami stres mungkin mengalami perubahan dalam cara mereka berinteraksi dengan teman-teman atau anggota keluarga. Mereka mungkin menjadi lebih cemas atau sensitif terhadap komentar atau kritik, atau bahkan mulai menghindari situasi sosial secara keseluruhan.

Tips Membantu Anak Mengatasi Stres

Setelah mengenali tanda-tanda bahwa anak mengalami stres, langkah berikutnya adalah memberikan dukungan dan bantuan yang tepat. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat orang tua lakukan:

1. Memulai Komunikasi Terbuka

Anak bisa saja mengeluhkan ketidaknyamannya. Namun, ada juga tipe anak yang tidak akan bercerita sebelum orang tua bertanya. Maka, sebaiknya orang tua membuka komunikasi dengan anak untuk dapat memahami secara spesifik apa yang anak rasakan dan apa yang membuat anak merasa demikian.

Misalnya ketika anak menolak untuk berangkat ke sekolagh tanpa alasan yang jelas. Maka, alih-alih mengomel karena sekolah adalah kewajiban, orang tua baiknya membuka komunikasi dengan anak. Orang tua dapat memberikan motivasi untuk membantu anak belajar mengelola stresnya.

2. Menciptakan Lingkungan yang Mendukung

Orang tua dapat membantu anak mengelola stres dengan menciptakan lingkungan yang mendukung (Wisner, 2023).

Pertama, orang tua dapat menyusun jadwal rutinitas sehari-hari. Hal ini akan membuat anak merasa lebih aman karena merasa mengetahui apa yang akan terjadi karena sudah terjadwal. Jadwal ini juga akan memastikan anak memiliki cukup waktu untuk tidur.

Kedua, orang tua dapat bertindak suportif dengan cara mengajak anak mengobrol setiap setelah anak melakukan kegiatan tertentu. Misalnya, tanyakan pada anak apa saja yang dia lakukan di sekolah, apa yang membuatnya senang, dan apa yang membuatnya tidak suka.

3. Dorong Anak Melakukan Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik dapat membantu mengurangi stres, jadi pastikan anak mendapatkan cukup waktu untuk bermain dan berolahraga setiap hari. Kesempatan ini akan membantu anak lebih rileks ketika kembali berhadapan dengan situasi yang membuatnya tertekan.

4. Mengajarkan Teknik Relaksasi

Situasi yang membuat anak stres bisa jadi adalah hal yang tidak mungkin ia hindari. Misalnya, anak mengalami stress setiap akan ujian. Mau tak mau, anak harus belajar mengelola dirinya agar situasi menekan tersebut dapat ia lalui dengan baik.

Orang tua dapat mengajarkan anak teknik-teknik relaksasi seperti meditasi sederhana atau pernapasan dalam untuk membantu mereka mengatasi merasa lebih tenang. Misalnya, ajarkan anak untuk menarik nafas panjang sebanyak 5 kali setiap kali ia berhadapan dengan situasi yang membuatnya tertekan.

5. Mencari Bantuan Profesional

Jika stres anak terus berlanjut atau memburuk, orang tua perlu mempertimbangkan untuk mencari bantuan dari profesional seperti psikolog atau guru BK. Misalnya, ketika anak terus menerus menolak untuk berangkat ke sekolah. Orang tua dapat bekerjasama dengan pihak sekolah, misalnya guru kelas dan guru BK, untuk membantu anak.

Kondisi lain misalnya jika anak nampak terus menarik diri, terus tidur secara berlebihan, dan enggan membuka komunikasi dengan orang tua. Bantuan dari profesional dapat sangat membantu anak untuk belajar mengatasi stres.

Penutup

Kemampan anak dalam mengatasi stres saat usia sekolah akan mempengaruhi tumbuh kembang anak (Sissons, 2023). Selain itu, kemampuan ini akan menjadi bekal baik bagi anak ketika menghadapi kesulitan di setiap tahap kehidupannya nanti. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk peka dan mendukung anak belajar mengatasi stres.

(SH)

Referensi

Davis, E., Sawyer, M. G., Lo, S. K., Priest, N., & Wake, M. (2010). Socioeconomic risk factors for mental health problems in 4-5-year-old children: Australian population study. Academic Pediatrics, 10(1), 41-47.

Sissons, Beth. Reynolds, Akilah (Rev) (2023) What to Know About Stress in Children. Medical News Today. Published on https://www.medicalnewstoday.com/. Accessed on May 28, 2024.

Wisner, Wendy. Goldman, Rachel (Rev) Is Your Child Dealing With Stress? Very Well Mind. Published on https://www.verywellmind.com/. Accessed on May 28, 2024.

Baca Artikel Lainnya..

Ikuti akun instagram kami untuk mendapatkan info-info terkini. Klik disini!