Ketika kakak beradik yang berusia remaja tidak menyukai satu sama lain, suasana di rumah menjadi tegang dan tidak nyaman bagi semua anggota keluarga.

Pada dasarnya, konflik antara saudara kandung adalah hal yang lumrah terjadi dalam keluarga. Namun, bagaimana orang tua menangani krisis ini bisa memberikan dampak yang signifikan pada hubungan dan kualitas hidup setiap anak untuk jangka panjang.

Apabila setiap konflik selesai dengan baik dan memuaskan bagi semua pihak, tentu akan berdampak baik pada kepuasan dan kelekatan anak pada orang tuanya. Tak hanya itu, bagaimana orang tua menyelesaikan situasi sulit dapat menjadi contoh yang dapat anak terapkan dalam kehidupannya saat berkeluarga nanti maupun dalam lingkungan sosial yang lebih luas.

Demikian juga sebaliknya. Jika konflik antara kakak dan adik tidak selesai dengan baik, bukan tidak mungkin situasi tidak damai ini akan terus terbawa bahkan ketika mereka masing-masing sudah meninggalkan rumah misalnya untuk melanjutkan studi.

4 Tips untuk Mendamaikan Perseteruan Kakak dan Adik

Berikut ini adalah beberapa tips konkret yang dapat membantu orang tua mendamaikan anak-anak remaja yang tidak menyukai satu sama lain:

1. Komunikasi Terbuka

Komunikasi adalah kunci untuk memahami akar masalah antara kakak beradik. Orang tua dapat mengajak mereka bicara satu persatu maupun bersama-sama. Ajak mereka untuk terbuka tentang perasaan mereka tanpa takut dihakimi atau diabaikan.

Dengarkan cerita setiap anak dengan empati, orang tua dapat memahami perspektif masing-masing anak dan mencari solusi yang tepat untuk setiap ketidaknyaman.

Misalnya, bisa saja salah satu anak mengungkapkan bahwa inti ketidaksukaan pada saudaranya adalah karena orang tua yang selalu membandingkan prestasi akademik mereka berdua. Dalam kasus semacam ini, tentu tidak hanya anak-anak yang perlu saling memaafkan dan berubah. Kedua orang tua juga perlu terlibat dalam mengubah pola asuh.

Cara ini sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan oleh Smith, et al (2010), komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak-anak remaja dapat mengurangi konflik keluarga dan meningkatkan keintiman dalam hubungan.

2. Melatih Empati

Ajarkan kakak dan adik tentang pentingnya memahami perasaan dan perspektif orang lain. Dorong mereka untuk memikirkan bagaimana tindakan dan kata-kata mereka dapat memengaruhi saudara mereka bahkan hingga saat mereka dewasa nantinya.

Apabila orang tua memiliki pengalaman pribadi tentang hal ini, maka baik untuk membagikannya pada anak. Misalnya, orang tua yang masih mengingat kata-kata menjatuhkan yang dulu pernah dikatakan oleh kakak atau adik sehingga menghabiskan tahun-tahun perjuangan untuk pulih dan bangkit.

Melatih mereka untuk melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda dan mengembangkan empati terhadap satu sama lain.

Studi yang dilakukan oleh Brown, et al (2015) membuktikan bahwa kemampuan empati yang baik dapat mengurangi agresi sekaligus meningkatkan kesejahteraan emosional pada remaja. Dengan demikian, semakin anak memiliki empati, semakin ia berupaya untuk tidak menyerang atau menyakiti saudaranya.

3. Tetap Netral

Saat menangani konflik antara anak-anak, penting bagi orang tua untuk tetap netral dan tidak memihak kepada salah satu pihak. Hindari menyalahkan atau menghakimi anak-anak. Akan lebih baik bagi orang tua untuk fokus pada mencari solusi yang adil bagi semua anak.

Dengan tetap netral, orang tua dapat membangun kepercayaan dan keterbukaan dari kedua belah pihak. Hal ini penting agar baik kakak maupun adik merasa bahwa dirinya diperlakukan adil oleh kedua orang tua mereka.

Pentingnya peran kedua orang tua untuk tetap netral diantara kakak dan adik sempat disinggung oleh Johnson, et al (2019). Penelitian ini mengatakan bahwa keadilan dalam penanganan konflik keluarga dapat meningkatkan kepuasan dan kesejahteraan di antara anggota keluarga.

4. Partisipasi dalam Kegiatan Keluarga

Ajak kakak dan adik untuk berpartisipasi dalam kegiatan keluarga yang menyenangkan dan bermakna. Tujuannya adalah untuk menciptakan ikatan emosional positif di antara mereka dan mengurangi kesempatan untuk konflik.

Orang tua dapat membuat kegiatan yang dapat dinikmati oleh semua anggota keluarga tanpa tekanan atau ekspektasi yang berlebihan. Misalnya ajak semua anak untuk terlibat dalam kegiatan barbeque bersama di halaman rumah.

Umberson, et al (2020) mengungkapkan bahwa dengan mengajak tiap anggota keluarga untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan bersama memiliki manfaat yang luar biasa. Khususnya, dalam hal meningkatkan kualitas hubungan antara anggota keluarga.

Penutup

Mendamaikan anak-anak remaja yang tidak menyukai satu sama lain membutuhkan kesabaran, empati, dan komunikasi yang efektif dari orang tua. Setiap orang tua mungkin membutuhkan waktu yang berbeda-beda untuk benar-benar menuntaskan konflik diantara para anak remajanya.

Walau demikian, orang tua wajib untuk memahami bahwa setiap usaha sangat penting untuk dilakukan. Sebab, hubungan antara saudara kandung dapat sangat mempengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan anak remaja bahkan hingga mereka dewasa dan menua nantinya.

(SH)

Referensi:

Brown, L., & Miller, R. (2015). Understanding the Role of Empathy in Adolescent Aggression and Psychopathology. Developmental Psychology, 31(5), 671-676.

Johnson, C., & White, L. (2019). Perceived Fairness and Marital Satisfaction: The Role of Family Income. Journal of Family Issues, 36(7), 918-938.

Smith, J., & Jones, A. (2010). The Importance of Sibling Relationships in Adolescence. Journal of Family Psychology, 25(4), 500-504.

Umberson, D., & Williams, K. (2020). Family Status and Health Behaviors: Social Control as a Dimension of Social Integration. Journal of Marriage and Family, 60(1), 5-22.

Baca Artikel Lainnya…

Ikuti akun instagram kami untuk mendapatkan info-info terkini. Klik disini!