Suatu malam di bulan Juli, dalam sebuah perkemahan musim panas khusus anak perempuan, para peserta kemping berkumpul dalam lingkaran untuk renungan malam.

Konselor yang menjadi pemimpin regu bertanya apakah ada gadis yang ingin membagikan sesuatu yang terjadi hari itu. Kejadian yang berdampak pada diri mereka.

Salah satu peserta kemping mengangkat tangannya. Ia bercerita bahwa seorang gadis dari pondok perkemahan lain telah mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaannya dan dia benar-benar kesal karenanya.

Konselor kamping kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengambil pasta gigi.

Dia meremasnya sedikit hingga pasta gigi keluar. Dia kemudian mencoba memasukkan kembali pasta gigi ke dalam wadahnya, tetapi itu hanya membuat kekacauan. Kemudian dia meremas lebih banyak lagi, mendorong lebih banyak pasta gigi keluar, dan menciptakan lebih banyak kekacauan. Namun, tidak ada yang akan dapat kembali ke dalam wadahnya.

Konselor kemudian memberi tahu para peserta kemping, “pasta gigi ini mewakili kata-kata yang kalian ucapkan. Begitu kalian mengatakan sesuatu, itu tidak mungkin kalian Tarik kembali. Sebab, segala upaya hanya akan menimbulkan lebih banyak kekacauan. Berpikirlah sebelum kalian berbicara, dan pastikan kata-kata tersebut berguna sebelum kalian mengeluarkannya.”

Moral:

Berbicara adalah keterampilan sosial mendasar yang diperlukan untuk menjalani kehidupan yang baik. Namun, banyak yang ceroboh dengan kata-katanya. Padahal kata-kata memegang begitu banyak kekuatan. Mereka dapat berdampak langsung pada hasil dari suatu situasi. Kata-kata dapat menciptakan reaksi yang membantu atau justru menyakitkan.

(diadaptasi dari https://www.developgoodhabits.com/inspirational-stories/)

Cerita Inspiratif lain..

Katak yang Jatuh ke dalam Panci

Permen dan Kelereng

Rahasia Kesuksesan

Pertanyaan Seekor Anak Unta